FAKTA MASALAH
AyoGitaBisa.com - Memperoleh pendidikan berkualitas di Indonesia sepertinya
masih angan-angan. Banyak batu sandungan yang membuatnya sulit maju. Bukan
hanya soal kurikulum, tapi kurangnya komitmen dari pihak berwenang memajukan
kualitas pendidikan di Indonesia.
Padahal, Indonesia memiliki peluang sangat besar untuk maju dan bersaing dengan negara lain. Tapi jika sistem pendidikan dan SDM di dalamnya tidak dibenahi, maka wajar negara ini tertinggal semakin jauh. Perlu kerja sama dan integritas untuk mengatasi setiap permasalahan, mulai dari hulu ke hilir.
Berikut 5 masalah pendidikan di Indonesia yang mendesak segera diatasi:
1. UN Semrawut
Masih jelas dalam ingatan masyarakat Indonesia bagaimana pelaksanaan Ujian Nasional tahun ini yang masih kacau balau. Untuk tingkat SMA sederajat, UN mengalami penundaaan di 11 provinsi akibat terlambatnya pencetakan dan pendistribusian. Selain itu, ada saja keluhan di beberapa daerah tentang kurangnya lembar soal dan jawaban sehingga harus difotokopi sendiri pihak sekolah.
Profesionalisme Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam mengelola UN pun dipertanyakan. Kemendikbud dinilai tidak memiliki perencanaan matang dalam pelaksanaan UN sehingga hasilnya sangat memprihatinkan.
2. Infrastruktur Buruk
Berita mengenai sekolah ambruk tentu bukan hal baru. Kondisi ini tidak hanya terjadi pada bangunan sekolah yang sudah lama rusak, tapi juga bangunan sekolah baru. Disinyalir bahan baku bangunan berkualitas rendah. Parahnya, tak sedikit yang menelan korban jiwa.
Di DKI Jakarta saja disinyalir 30% bangunan sekolah terancam ambruk, dan berpotensi menimbulkan kerugian hingga Rp55 miliar. Sekolah-sekolah tersebut dimulai dari kayu-kayu berumur muda dan tidak diberi antirayap. "Kami menginginkan semua sekolah dibangun dari bahan baku baja ringan, karena yang paling bahaya kan bahan atap plafon karena itu paling standar," jelas Wakil Gubernur DKI, Basuki Tjahya Purnama atau Ahok seperti dikutip Tribunnews.com.
Selain buruknya bangunan sekolah,sarana prasarana penunjang lainnya juga belum memadai seperti tidak adanya perpustakaan.
3. Pornografi
Miris dan sedih saat mendengar beberapa kasus siswa yang melakukan adegan tidak senonoh yang terjadi baru-baru ini. Pornografi sudah merasuki kehidupan mereka yang masih belia. Bahkan sebuah data menyebutkan 68% siswa SD sudah aktif mengakses konten porno. Sebagian besar mengakses konten pornografi dari komik, games dan situs porno. Plus kemudahan mengakses situs pornografi melalui peredaran DVD maupun VCD, telepon seluler dan juga majalah atau koran.
Penggunaan teknologi yang tanpa kontrol jadi salah satu pemicu. "Anak-anak sudah semakin dekat dengan teknologi. Peredaran tablet maupun HP menjadi pemicu yang lebih buruk lagi, ujar Psikolog Klinis, Baby Jim Aditya seperti dilansir Sindonews.com.
Siapa yang salah? Orang tua, guru, sistem pendidikan hingga pemerintah sebagai pemangku kebijakan turut andil dalam persoalan ini. Karena sejatinya pendidikan bukan hanya soal belajar matematika atau Bahasa Indonesia, tapi ada pembelajaran moral dan etika yang lebih utama.
4. Konten Pornografi di Buku SD
Buku pegangan untuk siswa adalah penunjang dalam belajar. Tapi bagaimana jika di dalamnya ada konten yang tidak senonoh. Mungkin hanya di Indonesia kasus ini terjadi. Ada ada buku penunjang SD yang berisi konten cerita dewasa. Ini terjadi untuk kesekian kalinya. Seperti kasus di Bogor, ada buku SD untuk kelas 6 berjudul Aku Senang Belajar Bahasa Indonesia yang mengisahkan percintaan dan keperawanan.
Kasus ini jelas kecerobohan guru di sekolah karena tidak meneliti lebih dulu buku pegangan siswa. Seharusnya pihak sekolah menyeleksi setiap buku yang masuk apakah sesuai dengan nilai dan kaidah kesopanan. Tidak langsung menelan mentah-mentah apa yang disajikan di dalam buku.
5. Pengelolaan BOS Tidak Transparan
Sebanyak 87% sekolah tak transparan dalam pengelolaan dana bantuan operasional sekolah (BOS). Laporan yang dipublikasikan Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK) awal Desember lalu itu menyebutkan dari hasil uji akses pada 222 sekolah di beberapa provinsi, 87% di antaranya enggan memberikan informasi tentang pengelolaan BOS. Padahal pengelolaan BOS masuk dalam kategori informasi publik. Indonesia Corruption Watch (ICW) mencatat saat ini sudah ada 48 kasus penyelewengan dana BOS yang melibatkan 179 kepala sekolah.
Padahal, Indonesia memiliki peluang sangat besar untuk maju dan bersaing dengan negara lain. Tapi jika sistem pendidikan dan SDM di dalamnya tidak dibenahi, maka wajar negara ini tertinggal semakin jauh. Perlu kerja sama dan integritas untuk mengatasi setiap permasalahan, mulai dari hulu ke hilir.
Berikut 5 masalah pendidikan di Indonesia yang mendesak segera diatasi:
1. UN Semrawut
Masih jelas dalam ingatan masyarakat Indonesia bagaimana pelaksanaan Ujian Nasional tahun ini yang masih kacau balau. Untuk tingkat SMA sederajat, UN mengalami penundaaan di 11 provinsi akibat terlambatnya pencetakan dan pendistribusian. Selain itu, ada saja keluhan di beberapa daerah tentang kurangnya lembar soal dan jawaban sehingga harus difotokopi sendiri pihak sekolah.
Profesionalisme Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam mengelola UN pun dipertanyakan. Kemendikbud dinilai tidak memiliki perencanaan matang dalam pelaksanaan UN sehingga hasilnya sangat memprihatinkan.
2. Infrastruktur Buruk
Berita mengenai sekolah ambruk tentu bukan hal baru. Kondisi ini tidak hanya terjadi pada bangunan sekolah yang sudah lama rusak, tapi juga bangunan sekolah baru. Disinyalir bahan baku bangunan berkualitas rendah. Parahnya, tak sedikit yang menelan korban jiwa.
Di DKI Jakarta saja disinyalir 30% bangunan sekolah terancam ambruk, dan berpotensi menimbulkan kerugian hingga Rp55 miliar. Sekolah-sekolah tersebut dimulai dari kayu-kayu berumur muda dan tidak diberi antirayap. "Kami menginginkan semua sekolah dibangun dari bahan baku baja ringan, karena yang paling bahaya kan bahan atap plafon karena itu paling standar," jelas Wakil Gubernur DKI, Basuki Tjahya Purnama atau Ahok seperti dikutip Tribunnews.com.
Selain buruknya bangunan sekolah,sarana prasarana penunjang lainnya juga belum memadai seperti tidak adanya perpustakaan.
3. Pornografi
Miris dan sedih saat mendengar beberapa kasus siswa yang melakukan adegan tidak senonoh yang terjadi baru-baru ini. Pornografi sudah merasuki kehidupan mereka yang masih belia. Bahkan sebuah data menyebutkan 68% siswa SD sudah aktif mengakses konten porno. Sebagian besar mengakses konten pornografi dari komik, games dan situs porno. Plus kemudahan mengakses situs pornografi melalui peredaran DVD maupun VCD, telepon seluler dan juga majalah atau koran.
Penggunaan teknologi yang tanpa kontrol jadi salah satu pemicu. "Anak-anak sudah semakin dekat dengan teknologi. Peredaran tablet maupun HP menjadi pemicu yang lebih buruk lagi, ujar Psikolog Klinis, Baby Jim Aditya seperti dilansir Sindonews.com.
Siapa yang salah? Orang tua, guru, sistem pendidikan hingga pemerintah sebagai pemangku kebijakan turut andil dalam persoalan ini. Karena sejatinya pendidikan bukan hanya soal belajar matematika atau Bahasa Indonesia, tapi ada pembelajaran moral dan etika yang lebih utama.
4. Konten Pornografi di Buku SD
Buku pegangan untuk siswa adalah penunjang dalam belajar. Tapi bagaimana jika di dalamnya ada konten yang tidak senonoh. Mungkin hanya di Indonesia kasus ini terjadi. Ada ada buku penunjang SD yang berisi konten cerita dewasa. Ini terjadi untuk kesekian kalinya. Seperti kasus di Bogor, ada buku SD untuk kelas 6 berjudul Aku Senang Belajar Bahasa Indonesia yang mengisahkan percintaan dan keperawanan.
Kasus ini jelas kecerobohan guru di sekolah karena tidak meneliti lebih dulu buku pegangan siswa. Seharusnya pihak sekolah menyeleksi setiap buku yang masuk apakah sesuai dengan nilai dan kaidah kesopanan. Tidak langsung menelan mentah-mentah apa yang disajikan di dalam buku.
5. Pengelolaan BOS Tidak Transparan
Sebanyak 87% sekolah tak transparan dalam pengelolaan dana bantuan operasional sekolah (BOS). Laporan yang dipublikasikan Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK) awal Desember lalu itu menyebutkan dari hasil uji akses pada 222 sekolah di beberapa provinsi, 87% di antaranya enggan memberikan informasi tentang pengelolaan BOS. Padahal pengelolaan BOS masuk dalam kategori informasi publik. Indonesia Corruption Watch (ICW) mencatat saat ini sudah ada 48 kasus penyelewengan dana BOS yang melibatkan 179 kepala sekolah.
Metode Pemecahan Masalah Menurut Para Ahli
Metode Pemecahan Masalah - Metode
mengajar adalah teknik penyajian yang dikuasai guru untuk mengajar atau
menyajikan bahan pelajaran kepada siswa di dalam kelas, baik secara individu
maupun kelompok, agar pelajaran dapat diserap, dipahami dan dimanfaatkan oleh
siswa dengan baik (Ahmadi, 1997:52).
Menurut Hamalik (1999:151) metode
pemecahan masalah adalah suatu metode mengajar dengan cara siswa dihadapkan
pada suatu masalah yang harus dipecahkannya berdasarkan data atau informasi
yang akurat sehingga mendapatkan suatu kesimpulan. Sedangkan pemecahan masalah
adalah suatu proses mental dan intelektual dalam menemukan suatu masalah dan
memecahkannya berdasarkan data dan informasi yang akurat sehingga dapat diambil
kesimpulan yang tepat dan cermat.
Metode pemecahan masalah
memberikan kesempatan peserta didik berperan aktif dalam mempelajari, mencari
dan menemukan sendiri informasi atau data untuk diolah menjadi konsep, prinsip,
teori atau kesimpulan. Kemampuan memecahkan masalah harus ditunjang oleh
kemampuan penalaran, yakni kemampuan melihat hubungan sebab akibat
(Hamalik,1999:152 ).
Metode pemecahan masalah banyak
digunakan guru bersama dengan penggunaan metode lain. Belajar memecahkan
masalah adalah suatu kegiatan dimana siswa hendaknya terbiasa mengerjakan
soal-soal yang tidak hanya memerlukan ingatan yang baik saja. Karena disamping
memberikan masalah-masalah yang menantang selama di kelas, seorang guru
matematika dapat saja memulai proses pembelajarannya dengan mengajukan masalah
yang cukup menantang dan menarik bagi siswa. Siswa dan guru lalu bersama-sama
memecahkan masalahnya tadi sambil membahas teori-teori, definisi-definisi
maupun rumus-rumus matematika. Jadi dengan menggunakan metode ini guru tidak
memberikan informasi dulu, tetapi informasi diperoleh siswa setelah memecahkan
masalah.
Menurut Polya dalam Karso (1994:60) masalah dalam
matematika bagi siswa adalah persoalan atau soal matematika, suatu persoalan
atau soal matematika akan menjadi masalah bagi siswa jika :
Mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan ditinjau dari
segi kematangan mental dan ilmunya.
Belum mempunyai algoritma atau prosedur untuk menyelesaikannya dan berkeinginan untuk menyelesaikannya.
Belum mempunyai algoritma atau prosedur untuk menyelesaikannya dan berkeinginan untuk menyelesaikannya.
Menurut Polya ada 4 langkah pemecahan masalah, yaitu :
1. Memahami masalah
Pada langkah ini Polya memberikan
bimbingan kepada siswa bagaimana agar siswa tersebut dapat menentukan datanya
atau apa yang diketahui dalam soal tersebut dan menentukan apa yang ditanyakan.
Namun jika siswa mengalami kegagalan, maka guru dapat memberikan bimbingan
dengan cara disuruh mengubah soal tersebut dengan kalimat sendiri. Selanjutnya
siswa disuruh menulis apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan.
2. Menyusun rencana pemecahan
Kegiatan yang perlu dilaksanakan
pada langkah ini antara lain, mencari hubungan antara data yang diketahui
dengan ata yang belum diketahui, hal ini dapat dilakukan jika siswa mengerjakan
langkah pertama benar. Hubungan yang diperoleh sesuai dengan rencana penelitian
ini adalah satu atau dua cara yang perlu disederhanakan.
3. Melaksanakan rencana pemecahan
Melaksanakan rencana pemecahan
masalah seperti yang telah dilaksanakan pada langkah kedua. Periksa setiap
langkah dan harus dilihat dengan jelas bahwa langkah tersebut benar.
4. Memeriksa kembali
Kegiatan yang dilakukan pada
langkah terakhir adalah memeriksa kembali hasil yang telah diperoleh dengan
soal aslinya.
Secara umum langkah-langkah proses pembelajaran yaitu :
1. Tahap pendahuluan
Guru memberikan informasi kepada siswa tentang materi
yang akan dipelajari, tujuan pembelajaran dan pemberian motivasi agar siswa
tertarik pada materi
Guru membentuk siswa ke dalam kelompok yang sudah direncanakan
Mensosialisasikan kepada siswa tentang model pembelajaran yang digunakan dengan tujuan agar siswa dapat mengenal dan memahaminya guru memberikan apersepsi yang berkaitan dengan materi yang akan dipelajari
Guru membentuk siswa ke dalam kelompok yang sudah direncanakan
Mensosialisasikan kepada siswa tentang model pembelajaran yang digunakan dengan tujuan agar siswa dapat mengenal dan memahaminya guru memberikan apersepsi yang berkaitan dengan materi yang akan dipelajari
2. Tahap pengembangan
Mengembangkan materi pembelajaran sesuai dengan apa yang
akan dipelajari siswa dalam kelompok. Siswa diberikan kesempatan untuk
menyelesaikan soal bersama kelompoknya
Guru memantau kerja dari tiap-tiap kelompok dan membantu memilih soal-soal yang cocok dan membimbing siswa yang mengalami kesulitan
Guru memantau kerja dari tiap-tiap kelompok dan membantu memilih soal-soal yang cocok dan membimbing siswa yang mengalami kesulitan
3. Tahap penerapan
Setelah siswa selesai mengerjakan soal dan yakin dengan
jawaban yang diperoleh, lembar jawaban dikumpulkan untuk dinilai. Memanggil
nomor siswa secara acak untuk menjawab atau menyelesaikan soal, supaya siswa
selalu mempersipkan diri sebaik-baiknya
Guru dan siswa menjawab soal secara bersama-sama
Guru dan siswa menjawab soal secara bersama-sama
4. Evaluasi
Evaluasi dilakukan dengan memberikan tes prestasi berupa
tiga soal yang harus dikerjakan siswa secara individu tanpa saling membantu.
Menurut Gagne tahapan belajar yang lebih tinggi adalah
belajar pemecahan masalah. Dalam tipe belajar ini siswa dihadapkan kepada
masalah-masalah yang harus dipecahkannya. Pemecahan masalah dapat dilakukan
secara individu atau kelompok. Kegiatan belajar pemecahan masalah biasanya
meliputi lima langkah, yaitu:
1.
Mengidentifikasi
masalah
Identifikasi masalah adalah suatu tahap permulaan dari
penguasaan masalah dimana suatu objek tertentu dalam situasi tertentu dapat
kita kenali sebagai suatu masalah. Identifikasi masalah bertujuan agar kita
mendapatkan sejumlah masalah yang nantinya akan diselesaikan atau dicari cara
penyelesaiannya.
2.
Merumuskan dan
membatasi masalah
Pembatasan masalah ialah usaha untuk menetapkan
batasan-batasan dari masalah yang akan dipecahkan. Batasan masalah ini berguna
untuk mengidentifikasi faktor mana saja yang termasuk dalam ruang lingkup
masalah dan yang tidak termasuk dalam ruang lingkup masalah .
3.
Menyusun
pertanyaan-pertanyaan
Pada tahap ini yang dilakukan adalah membuat
pertanyaan-pertanyaan yang nantinya akan dijawab atau dicarikan jalan
pemecahannya. Pertanyaan yang akan dibuat didasarkan atas identifikasi dan
pembatasan masalah.
4.
Mengumpulkan data
Pada tahap ini yang dilakukan adalah mengumpulkan
data-data atau informasi yang akurat yang berhubungan dengan masalah yang akan
diselesaikan.
5.
Merumuskan jawaban
atas pertanyaan-pertanyaan serta kesimpulan.
Dari pertanyaan-pertanyaan yang dibuat sebelumnya kita merumuskan jawaban berdasarkan data dan informasi yang ada, sehingga dapat diambil suatu kesimpulan.
Dari pertanyaan-pertanyaan yang dibuat sebelumnya kita merumuskan jawaban berdasarkan data dan informasi yang ada, sehingga dapat diambil suatu kesimpulan.
Dalam proses pembelajaran, disamping perlunya penalaran
yang baik juga diperlukan menguasai langkah-langkah memecahkan masalah secara
tepat. Menurut John Deway (Dalam Ahmadi, 1997 :123), langkah-langkah yang harus
dicapai dalam memecahkan masalah adalah sebagai berikut :
a.
Menyadari dan
merumuskan masalah
b.
Merumuskan hipotesis
c.
Mengumpulkan dan
mengolah data
d.
Menguji hipotesis
dangan data
e.
Menarik kesimpulan
Adapun beberapa kelebihan metode pemecahan masalah :
a.
Mendidik siswa
berpikir secara sistematis
b.
Mampu mencari
berbagai jalan keluar dari suatu kesulitan yang dihadapi
c.
Menganalisis suatu
masalah dari beberapa aspek
d.
Mendidik siswa agar
tidak mudah putus asa dalam menghadapi kesulitan
e.
Mendidik siswa
percaya pada diri sendiri
Adapun beberapa kelemahan metode pemecahan masalah :
Tidak semua siswa dapat menentukan masalah. Memerlukan
waktu yang banyak untuk menemukan suatu masalah.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, A. dan J.T. Prasetya. 1997. Strategi Belajar
Mengajar (SBM). Bandung: Pustaka Setia.
Hamalik, O. 1999. Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung
: Sinar Baru Algensindo.
Gagne. R. M. 1988. Prinsip-Prinsip Belajar Untuk
Pengajaran. Surabaya: Usaha Nasional..
Buku paket, yaitu Nuniek Avianti Agus. 2008. mudah
belajar matematika 2 Untuk Kelas VIII Sekolah Menenga /Madrasah Tsanawiyah.
Jakarta: Pusat Perbukuan
Departemen Pendidikan Nasional
Departemen Pendidikan Nasional




