Monday, December 14, 2015

FAKTA MASALAH



FAKTA MASALAH

AyoGitaBisa.com - Memperoleh pendidikan berkualitas di Indonesia sepertinya masih angan-angan. Banyak batu sandungan yang membuatnya sulit maju. Bukan hanya soal kurikulum, tapi kurangnya komitmen dari pihak berwenang memajukan kualitas pendidikan di Indonesia.

Padahal, Indonesia memiliki peluang sangat besar untuk maju dan bersaing dengan negara lain. Tapi jika sistem pendidikan dan SDM di dalamnya tidak dibenahi, maka wajar negara ini tertinggal semakin jauh. Perlu kerja sama dan integritas untuk mengatasi setiap permasalahan, mulai dari hulu ke hilir.

Berikut 5 masalah pendidikan di Indonesia yang mendesak segera diatasi:

1. UN Semrawut
Masih jelas dalam ingatan masyarakat Indonesia bagaimana pelaksanaan Ujian Nasional tahun ini yang masih kacau balau. Untuk tingkat SMA sederajat, UN mengalami penundaaan di 11 provinsi akibat terlambatnya pencetakan dan pendistribusian. Selain itu, ada saja keluhan di beberapa daerah tentang kurangnya lembar soal dan jawaban sehingga harus difotokopi sendiri pihak sekolah.

Profesionalisme Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam mengelola UN pun dipertanyakan. Kemendikbud dinilai tidak memiliki perencanaan matang dalam pelaksanaan UN sehingga hasilnya sangat memprihatinkan.

2. Infrastruktur Buruk
Berita mengenai sekolah ambruk tentu bukan hal baru. Kondisi ini tidak hanya terjadi pada bangunan sekolah yang sudah lama rusak, tapi juga bangunan sekolah baru. Disinyalir bahan baku bangunan berkualitas rendah. Parahnya, tak sedikit yang menelan korban jiwa.

Di DKI Jakarta saja disinyalir 30% bangunan sekolah terancam ambruk, dan berpotensi menimbulkan kerugian hingga Rp55 miliar. Sekolah-sekolah tersebut dimulai dari kayu-kayu berumur muda dan tidak diberi antirayap. "Kami menginginkan semua sekolah dibangun dari bahan baku baja ringan, karena yang paling bahaya kan bahan atap plafon karena itu paling standar," jelas Wakil Gubernur DKI, Basuki Tjahya Purnama atau Ahok seperti dikutip Tribunnews.com.

Selain buruknya bangunan sekolah,sarana prasarana penunjang lainnya juga belum memadai seperti tidak adanya perpustakaan.

3. Pornografi
Miris dan sedih saat mendengar beberapa kasus siswa yang melakukan adegan tidak senonoh yang terjadi baru-baru ini. Pornografi sudah merasuki kehidupan mereka yang masih belia. Bahkan sebuah data menyebutkan 68% siswa SD sudah aktif mengakses konten porno. Sebagian besar mengakses konten pornografi dari komik, games dan situs porno. Plus kemudahan mengakses situs pornografi melalui peredaran DVD maupun VCD, telepon seluler dan juga majalah atau koran.

Penggunaan teknologi yang tanpa kontrol jadi salah satu pemicu. "Anak-anak sudah semakin dekat dengan teknologi. Peredaran tablet maupun HP menjadi pemicu yang lebih buruk lagi, ujar Psikolog Klinis, Baby Jim Aditya seperti dilansir Sindonews.com.

Siapa yang salah? Orang tua, guru, sistem pendidikan hingga pemerintah sebagai pemangku kebijakan turut andil dalam persoalan ini. Karena sejatinya pendidikan bukan hanya soal belajar matematika atau Bahasa Indonesia, tapi ada pembelajaran moral dan etika yang lebih utama.

4. Konten Pornografi di Buku SD
Buku pegangan untuk siswa adalah penunjang dalam belajar. Tapi bagaimana jika di dalamnya ada konten yang tidak senonoh. Mungkin hanya di Indonesia kasus ini terjadi. Ada ada buku penunjang SD yang berisi konten cerita dewasa. Ini terjadi untuk kesekian kalinya. Seperti kasus di Bogor, ada buku SD untuk kelas 6 berjudul Aku Senang Belajar Bahasa Indonesia yang mengisahkan percintaan dan keperawanan.

Kasus ini jelas kecerobohan guru di sekolah karena tidak meneliti lebih dulu buku pegangan siswa. Seharusnya pihak sekolah menyeleksi setiap buku yang masuk apakah sesuai dengan nilai dan kaidah kesopanan. Tidak langsung menelan mentah-mentah apa yang disajikan di dalam buku.

5. Pengelolaan BOS Tidak Transparan
Sebanyak 87% sekolah tak transparan dalam pengelolaan dana bantuan operasional sekolah (BOS). Laporan yang dipublikasikan Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK) awal Desember lalu itu menyebutkan dari hasil uji akses pada 222 sekolah di beberapa provinsi, 87% di antaranya enggan memberikan informasi tentang pengelolaan BOS. Padahal pengelolaan BOS masuk dalam kategori informasi publik. Indonesia Corruption Watch (ICW) mencatat saat ini sudah ada 48 kasus penyelewengan dana BOS yang melibatkan 179 kepala sekolah.













Metode Pemecahan Masalah Menurut Para Ahli

Metode Pemecahan Masalah - Metode mengajar adalah teknik penyajian yang dikuasai guru untuk mengajar atau menyajikan bahan pelajaran kepada siswa di dalam kelas, baik secara individu maupun kelompok, agar pelajaran dapat diserap, dipahami dan dimanfaatkan oleh siswa dengan baik (Ahmadi, 1997:52).
Menurut Hamalik (1999:151) metode pemecahan masalah adalah suatu metode mengajar dengan cara siswa dihadapkan pada suatu masalah yang harus dipecahkannya berdasarkan data atau informasi yang akurat sehingga mendapatkan suatu kesimpulan. Sedangkan pemecahan masalah adalah suatu proses mental dan intelektual dalam menemukan suatu masalah dan memecahkannya berdasarkan data dan informasi yang akurat sehingga dapat diambil kesimpulan yang tepat dan cermat.
Metode pemecahan masalah memberikan kesempatan peserta didik berperan aktif dalam mempelajari, mencari dan menemukan sendiri informasi atau data untuk diolah menjadi konsep, prinsip, teori atau kesimpulan. Kemampuan memecahkan masalah harus ditunjang oleh kemampuan penalaran, yakni kemampuan melihat hubungan sebab akibat (Hamalik,1999:152 ).
Metode pemecahan masalah banyak digunakan guru bersama dengan penggunaan metode lain. Belajar memecahkan masalah adalah suatu kegiatan dimana siswa hendaknya terbiasa mengerjakan soal-soal yang tidak hanya memerlukan ingatan yang baik saja. Karena disamping memberikan masalah-masalah yang menantang selama di kelas, seorang guru matematika dapat saja memulai proses pembelajarannya dengan mengajukan masalah yang cukup menantang dan menarik bagi siswa. Siswa dan guru lalu bersama-sama memecahkan masalahnya tadi sambil membahas teori-teori, definisi-definisi maupun rumus-rumus matematika. Jadi dengan menggunakan metode ini guru tidak memberikan informasi dulu, tetapi informasi diperoleh siswa setelah memecahkan masalah.
Menurut Polya dalam Karso (1994:60) masalah dalam matematika bagi siswa adalah persoalan atau soal matematika, suatu persoalan atau soal matematika akan menjadi masalah bagi siswa jika :
Mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan ditinjau dari segi kematangan mental dan ilmunya.
Belum mempunyai algoritma atau prosedur untuk menyelesaikannya dan berkeinginan untuk menyelesaikannya.
Menurut Polya ada 4 langkah pemecahan masalah, yaitu :
1. Memahami masalah
Pada langkah ini Polya memberikan bimbingan kepada siswa bagaimana agar siswa tersebut dapat menentukan datanya atau apa yang diketahui dalam soal tersebut dan menentukan apa yang ditanyakan. Namun jika siswa mengalami kegagalan, maka guru dapat memberikan bimbingan dengan cara disuruh mengubah soal tersebut dengan kalimat sendiri. Selanjutnya siswa disuruh menulis apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan.

2. Menyusun rencana pemecahan
Kegiatan yang perlu dilaksanakan pada langkah ini antara lain, mencari hubungan antara data yang diketahui dengan ata yang belum diketahui, hal ini dapat dilakukan jika siswa mengerjakan langkah pertama benar. Hubungan yang diperoleh sesuai dengan rencana penelitian ini adalah satu atau dua cara yang perlu disederhanakan.
3. Melaksanakan rencana pemecahan
Melaksanakan rencana pemecahan masalah seperti yang telah dilaksanakan pada langkah kedua. Periksa setiap langkah dan harus dilihat dengan jelas bahwa langkah tersebut benar.
4. Memeriksa kembali
Kegiatan yang dilakukan pada langkah terakhir adalah memeriksa kembali hasil yang telah diperoleh dengan soal aslinya.
Secara umum langkah-langkah proses pembelajaran yaitu :
1. Tahap pendahuluan
Guru memberikan informasi kepada siswa tentang materi yang akan dipelajari, tujuan pembelajaran dan pemberian motivasi agar siswa tertarik pada materi
Guru membentuk siswa ke dalam kelompok yang sudah direncanakan
Mensosialisasikan kepada siswa tentang model pembelajaran yang digunakan dengan tujuan agar siswa dapat mengenal dan memahaminya guru memberikan apersepsi yang berkaitan dengan materi yang akan dipelajari
2. Tahap pengembangan
Mengembangkan materi pembelajaran sesuai dengan apa yang akan dipelajari siswa dalam kelompok. Siswa diberikan kesempatan untuk menyelesaikan soal bersama kelompoknya
Guru memantau kerja dari tiap-tiap kelompok dan membantu memilih soal-soal yang cocok dan membimbing siswa yang mengalami kesulitan
3. Tahap penerapan
Setelah siswa selesai mengerjakan soal dan yakin dengan jawaban yang diperoleh, lembar jawaban dikumpulkan untuk dinilai. Memanggil nomor siswa secara acak untuk menjawab atau menyelesaikan soal, supaya siswa selalu mempersipkan diri sebaik-baiknya
Guru dan siswa menjawab soal secara bersama-sama
4. Evaluasi
Evaluasi dilakukan dengan memberikan tes prestasi berupa tiga soal yang harus dikerjakan siswa secara individu tanpa saling membantu.
Menurut Gagne tahapan belajar yang lebih tinggi adalah belajar pemecahan masalah. Dalam tipe belajar ini siswa dihadapkan kepada masalah-masalah yang harus dipecahkannya. Pemecahan masalah dapat dilakukan secara individu atau kelompok. Kegiatan belajar pemecahan masalah biasanya meliputi lima langkah, yaitu:


1.      Mengidentifikasi masalah
Identifikasi masalah adalah suatu tahap permulaan dari penguasaan masalah dimana suatu objek tertentu dalam situasi tertentu dapat kita kenali sebagai suatu masalah. Identifikasi masalah bertujuan agar kita mendapatkan sejumlah masalah yang nantinya akan diselesaikan atau dicari cara penyelesaiannya.
2.      Merumuskan dan membatasi masalah
Pembatasan masalah ialah usaha untuk menetapkan batasan-batasan dari masalah yang akan dipecahkan. Batasan masalah ini berguna untuk mengidentifikasi faktor mana saja yang termasuk dalam ruang lingkup masalah dan yang tidak termasuk dalam ruang lingkup masalah .
3.      Menyusun pertanyaan-pertanyaan
Pada tahap ini yang dilakukan adalah membuat pertanyaan-pertanyaan yang nantinya akan dijawab atau dicarikan jalan pemecahannya. Pertanyaan yang akan dibuat didasarkan atas identifikasi dan pembatasan masalah.
4.      Mengumpulkan data
Pada tahap ini yang dilakukan adalah mengumpulkan data-data atau informasi yang akurat yang berhubungan dengan masalah yang akan diselesaikan.
5.      Merumuskan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan serta kesimpulan.
Dari pertanyaan-pertanyaan yang dibuat sebelumnya kita merumuskan jawaban berdasarkan data dan informasi yang ada, sehingga dapat diambil suatu kesimpulan.
Dalam proses pembelajaran, disamping perlunya penalaran yang baik juga diperlukan menguasai langkah-langkah memecahkan masalah secara tepat. Menurut John Deway (Dalam Ahmadi, 1997 :123), langkah-langkah yang harus dicapai dalam memecahkan masalah adalah sebagai berikut :
a.       Menyadari dan merumuskan masalah
b.      Merumuskan hipotesis
c.       Mengumpulkan dan mengolah data
d.      Menguji hipotesis dangan data
e.       Menarik kesimpulan
Adapun beberapa kelebihan metode pemecahan masalah :
a.       Mendidik siswa berpikir secara sistematis
b.      Mampu mencari berbagai jalan keluar dari suatu kesulitan yang dihadapi
c.       Menganalisis suatu masalah dari beberapa aspek
d.      Mendidik siswa agar tidak mudah putus asa dalam menghadapi kesulitan
e.       Mendidik siswa percaya pada diri sendiri


Adapun beberapa kelemahan metode pemecahan masalah :
Tidak semua siswa dapat menentukan masalah. Memerlukan waktu yang banyak untuk menemukan suatu masalah.



DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, A. dan J.T. Prasetya. 1997. Strategi Belajar Mengajar (SBM). Bandung: Pustaka Setia.
Hamalik, O. 1999. Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung : Sinar Baru Algensindo.
Gagne. R. M. 1988. Prinsip-Prinsip Belajar Untuk Pengajaran. Surabaya: Usaha Nasional..
Buku paket, yaitu Nuniek Avianti Agus. 2008. mudah belajar matematika 2 Untuk Kelas VIII Sekolah Menenga /Madrasah Tsanawiyah. Jakarta: Pusat Perbukuan
Departemen Pendidikan Nasional







Saturday, November 21, 2015

Cinta Itu Fitrah

Kita manusia biasa yang memiliki cinta/kasi sayang.
Tiada yang salah karena cinta adalah anugrah.
Justru cintalah yang memanusiakan manusia, mewarnai
kehidupan dan menerbitkan harapan. Tiada masalah ada cinta
pada insan manusia dan tiada pernah pula Allah karuniakan
selaksa cinta untuk menyiksa. Allah turunkan cinta agar
dua insan dapat bersama dalam satu bahtera asa.

Cinta adalah anugrah pemberian Allah dan karunia-Nya. Allah
menamakan rasa cinta pada jiwa kita sebagai bentuk dari rasa
cinta-Nya kepada kita agar kita "berfikir" tentang-Nya.
Cinta bagi manusia adalah bagian dari fitrah, bagian dari
naluri-naluri, naluri yang tidak dapat diindra mata, namunterdapat
pada manusia dan ia menuntut pemenuhan.

Naluribisa jadi naluri untuk mempertahankan eksistensi dan
berorientasi pada diri sendiri seperti, rasa ingin dihargai, takut
bila merasa terancam, dan lainnya. Bisa juga naluri untuk
melanjutkan keturunan seperti, rasa sayang terhadap orangtua
dan anak, saudara, ataupun lawan jenis. Bisa juga mewujud
dalam naluri untuk menyucikan sesuatu seperti rasa takjub saat
melihat sesuatu yang agung ataupun naluri beragama itu sendiri.

Friday, November 13, 2015

BANGUNAN TEORI (KONSE dan DALIL)



TUGAS KELOMPOK
BANGUNAN TEORI (KONSE dan DALIL)



KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan kepada Allah SWT yang memberikan rahmat-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah Bangunan Teori (Konsep dan Dalil). Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas pada Mata Kuliah “Filsafat Sains dan Bioetika” yang diampu oleh Dr. Achyani, M.Si. Dengan adanya makalah ini diharapkan dapat menambah wawasan kita tentang pentingnya mempelajari Filsafat Sains dan Bioetika.
Tak lupa penyusun ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penyusun dalam menyelesaikan tugas ini, baik bantuan material maupun bantuan berupa dorongan semangat sehingga penyusun dapat menyelesaikan tugas ini dengan tepat waktu.
Akhir kata, tak ada gading yang tak retak demikian pula dengan penulisan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan, oleh karena itu penyusun meminta kritik dan saran yang bersifat membangun sehingga nantinya dalam menyusun makalah selanjutnya jauh lebih baik.




                                                            Metro,   Desember 2014


Tim Penyusun






DAFTAR ISI

COVER .................................................................................................        i
KATA PENGANTAR ...........................................................................        ii
DAFTAR ISI .........................................................................................        iii
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................       
A. Latar Belakang .......................................................................                   
B.Rumusan Masalah ...................................................................       
C.Tujuan Penulisan Masalah .......................................................       
BAB II PEMBAHASAN .....................................................................       
A.Konsep ....................................................................................       
1. Pengertian ...............................................................................
2. Langkah-Langkah Menyusun Konsep ....................................
3. Macam Konsep dan Pengukurannya ......................................
4. Keteatan dalam Pengukuran Konsep ......................................
B.Teori ........................................................................................       
1. Pengertian ...............................................................................
2. Struktur Dalil ..........................................................................
3. Hubungan yang Dikandung Suatu Dalil .................................
4. Arah yang Dikandung Suatu Dalil...........................................
5. Langkah-Langkah Perumusan Dalil........................................
BAB III PENUTUP .............................................................................       
A.Kesimpulan .............................................................................       
DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................       








BAB II
PPEMBAHASAN


A.    KONSEP
1.    Pengertian
Menurut Mullins (1971: 7-17) konsep adalah ekspresi ide (pemikiran) dalam bentuk kata-kata. Suatu konsep dapat dibagi menjadi berbagai sub-konsep, dan dari sub-konsep dapat dibagi menjadi berbagai klasifikasi peubah (variabel).
2.    Langkah-Langkah Menyusun Konsep
a.    Menemukan Situasi Problematik dan Merumuskannya
Situasi problematis dapat muncul dari aras berpikir abstrak dan juga aras berpikir empiris. Sumber problematik yang berasal dari aras abstrak meliputi teori-teori yang telah mapan, hasil penelitian dan diskusi-diskusi. Sumber problematik yang berasal dari aras empiris meliputi fakta-fakta yang diamati dan pengalaman sendiri.
Situasi problematis adalah keadaan atau periatiwa yang gagasan-gagasan tentangnya masih kabur, yang menimbulkan keraguan, yang menghentakkan para peneliti untuk berpikir agar dapat diperoleh kejelasan. Istilah problematik sendiri memiliki pengertian ada kesenjangan antara situasi yang diharapkan dengan situasi nyata.
Apabila situasi yang problematis telah ditemukan, langkah berikutnya adalah merumuskan suatu masalah untuk ditelaah secara mendalam. Dalam membuat rumusan masalah biasanya dalam bentuk kalimat introgatif. Istilah situasi yang problematis menurut pemahaman isi sebenarnya dekat dengan istilah Societal problema. Societal problema mengandung pengertian masalah-masalah yang ada dan dirsakan oleh lapisan masyarakat dimana penelitian itu dilaksanakan. Menemukan situasi yang problematis dapat pula melalui pengamatan lapangan yaitu mengenal latar belakang masalah, menemukan sosok masalah dan kemudian menentukan titik minatnya.
b.   Merumuskan Persoalan dalam Penelitian
Rumusan persoalaan penelitian pada dasarnya merupakan pertanyaan mengenai konsep yang diminati. Perangkat pertanyaan itu merupakan alat untuk mempertajam permasalahan lebih rinci yang hendak dikaji secara mendalam dari konsep konsep yang diminati. Hal-hal yang diperhatikan adalah;
1)      Apakah yang menjadi masalah penelitian itu merupakan profil konsep, nisbah konsep, perbandingan nisbah-konsep atau perbandingan nisbah antar konsep atau sistem dalil?
2)      Jenis kata tanya apa yang muncul dalam rumusan persoalan kata apa (memberi gambaran), bagaimana (menginginkan cara atau proses), mengapa (butuh analisis), sejauh mana (menginginkan ada prediksi atau peramalan), dan lain-lain.
3)      Ada kalanya orang hanya ingin menggunakan analisis statistik tetapi ada kalanya hanya jenis analisis non-statistik. Disamping itu saat ini ada arus berpikir analitis yang menghendaki penggunaan kedua jenis analisis tersebut secara bersama-sama. Pemanfaatan jenis analisis statistik dan non-staistik ada yang menyebutnya sebagai analisis spiral, dengan resiko penggunaan kedua jenis alat analisis tersebut berulang-ulang sampai ditemukannya kebenaran ilmu. Dalam kajian statistik hubungan antar konsep ditunjukan dengan adanya hubungan antara dua konsep atau lebih, yaitu hubungan simetri, hubungan timba-balik dan hubungan a-simetri. Sedangkan kajian non-statistik hubungan antar konsep yang dikaji ialah ada tidaknya makna, arti dan kepentingannya.
4)      Dalam analisis statistik hubungan nisbah antar konsep langsug dapat ditandai sebagai sejumlah peubah bebas dan suatu peubah gayut.
5)      Dalam mengkaji nisbah antar konsep, maka perlu menjawab masalah penelitian berkenaan dengan ada tidaknya nisbah, arah nisbah, sifat nisbah.
c.    Unit Analisis
Unit analisis ialah keberadaan dari populasi yang tentangnya dibuat kesimpulan atau kerapatan empiris satuan analisis dapat dinyatakan dengan intensional (apabila populasi digariskan dengan tolak ukur yang eksplisit tertentu) dan ekstensional (apabila semua anggota populasi didaftar secara eksplisit). Manfaat unit analisis secara intensional adalah bahwa satuan analisis terbuka secara empiris. Apabila tolak ukur berubah, maka populasi akan bergeser pula, sehingga memudahkan ekstrapolasi lintas ruang dan waktu.
d.   Membentuk Konsep dan Mentakrifnya
Konsep dalam bangunan teori dibentuk dari persepsi masing-masing ilmuan secara logis berdasarkan pengalaman lapangan. Abraham kaplan (1963:34-35) menyatakan ‘Perception is fundamental to all science. And appropriate action on things depends on experience of them: only empirical knowledge provides a basis for successful action’. Konsep digunakan sebagai patokan dasar sekarang unruk dapat berkomunikasi atau memecahkan masalah melalui makna dari simbol-simbol yang di sepakati bersama.
Simbol ada dua, yaitu simbol primitif merupakan simbol yang nyata serta alamiah untuk menunjuk benda atau contoh yang dimaksud. Dan simbol turunan atau simbol nominal merupakan simbol yang diturunkan untuk menggambarkan keberadaan benda atau fenomena kejadian tertentu yang dapat diturunkan melalui angka.
Setiap disiplin ilmu memiliki simbol-simbol teknis sendiri, dengan demikian akan berbeda simbol yan berlaku di ilmu ekonomi, sosial, filsafat, kimia, biologi dan lain-lain. Dalam masing-masing komunitas keilmuan simbol yang akan digunakan harus dinyatakan melalui definisi (takrif) atau batasan. Hal ini bertujuan untuk:
a)      Menghilangkan kerancuan berpikir yang disebabkan pertentangan verbal dan mungkin juga karena perbedaan yang hakiki (substansial).
b)      Mengurangi kekaburan, sehingga memudahkan orang menguasai petunjuk pelaksanaan. Kalau satu konsep dapat diartikan lebih dari satu ngertian maka konsep tersebut redanden, dan mungkin juga satu konsep tak jelas tapal batasanya.
c)      Konsep dapat mejelaskan karakteristik suatu teori tertentu yang penad dengan masalah peneitian.
d)     Untuk menarik minat orang lain karena dengan mentakrif konsep dapat mengajak orang memahami konsep secara mendalam.

3.    Macam Konsep dan Pengukurannya
Konsep dibedakan dalam dua jenis yang memiliki konsekuensi informasi yang dikandungnya.
a)      Atribut (attribute), yaitu konep yang memiliki ciri khas (property) yang dikandungnya sehingga dapat dibedakan. Konsep semacam ini juga mengandung informasi yang bersifat kategorikal, yaitu susunan pengertian atau dalam bentuk pernyataan yang telah dibentuk oleh akal manusia (diberi makna). Konsep atribut sering diungkap dalam penelitian kualitatif yang bertujuan untuk membangun pemahaman baru atas realistik sosial.
b)      Peubah (variabel) yaitu konsep yang mengandung ciri khas (properti) yang dapat diukur (menunjukan suatu derajat). Konsep peubah ini memiliki empat aras pengukuran, yaitu aras pengukuran nominal, ordinal, interval, dan rasional (NOIR)
Aras pengukuran interval dan rasional sering disebut aras pengukuran kardinal dan sering kali pembedaan kedua aras pengukuran itu bersifat akademis. Pemahaman tentang pertautan antara macam konsep (atribut dan peubah) dan aras pengukuran konsep (NOIR) mutlak penting karena memiliki implikasi terhap instrumen yang digunakan untuk mengukur konsep itu. Analisis statistik menjadi tulang punggung dalam pengukuran konsep yang brupa peubah.
Konsep atribut memiliki aras pengukuran nominal yang secara empiris hanya dapat diidentifikasi untuk dipahami. Dalam kegiatan analisis statistik, arus pengukuran nominal dan sebagian ordinal dapat dikaji dengan jenis statistik non-parametrik. Analisis non-parametrik memiliki keunggulan yaitu tidak melibatkan parameter populasi, dapat membaca data yang berasal dari skala lemah, dapat dipaka meskipun konsepnya lemah dan cepat dikerjakan meskipun secara manual (Daniel, 1989: 22-23)
Konsep peubah (variabel) memiliki aras pengukuran ordinal, interval dan rasional. Secara empiris dapat dilakukan penskalaan, yang kemudian dapat dikaji dengan jenis statistik prametrik. Data jenis kardinal memiliki keistimewaan, karena pensekalaan yang halus maka tingkat kejelasannya lebih baik. Oleh karena itu data kardinal dapat langsung menggunakan uji statistik parametrik dalam kegiatan analisis. Dari uraian tersebut, beberapa hal perlu diperhatikan untuk penggunaan kajian statistik:
a)      Bila semua konsep dalam model diukur pada aras normal maka secara langsung dapat digunakan teknik non-parametrik statistik.
b)      Apabila semua konsep dapat diukur di aras ordinal, maka dapat langsung digunakan teknik analisis non-parametrik yang digunakan.
c)      Apabila semua konsep dalam model itu diukur pada aras kardinal maka teknik statistik parametrik cocok digunakan.
d)     Apabila dalam model terdapat konsep-konsep yang diukur pada aras yang berbeda maka tersedia berbagai teknik tatistik.
e)      Mengubah aras pengukuran konsep hanya dapat dilakukan dari yang pada dasarnya kuantitatif ke yang kualitatif.

4.      Ketepatan dalam Pengukuran Konsep
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengkuran konsep penelitian. Dalam hal ini perlu disadari bahwa mengukur konsep adalah suatu peristiwa di luar bangunan teori, tetapi cukup menentukan apakah suatu konsep tersebut dapat diukur atau dibuktikan di aras empirik.
Konsep tengahan yang berasal dari penjabaran teori besar masih perlu dijabarkan dalam konsep rendahan (teori rendahan) yang mengandung matra tunggal sehigga dapat langsung dicarikan indikator empiris di aras empiris. Indikator empiris juga disebut ‘auxiliary theory’ yang membuka peluang proses terjemahan konsepsi abstrak pada aras empiris. Dalam keadaan tertentu dapat terjadi penggunaan indikator empiris yang dapat menimbulkan nisbah semu antar indikator empiris atau indikator empiris dengan konsep abstrak.
Apakah memang indkator empiris yang dipilih itu senyatanya mampu mengukur secara tepat konsep terentu, masih harus dibuktikan. Pembuktian ini kemudian dikenal sebagai kesahihan (validity) dan keterandalan (reability) dari suatu indikator empiris. Jenis kesahihan dan keterandalan suatu indkator empiris dapat diuji dengan teknik statistik dan non-statistik, tergantung pada jenis konsep yang ada (atribut dan peubah).
Jumlah indikator empiris untuk mengukur sebuah konsep bersifat relatif; dapat digunakan indikator tunggal, jamak dan indeks. Digunakan indikator tunggal, apabila hanya dengan satu indikator empiris tersebut dapat diukur konsep yang ada di aras abstrak. Dalam hal ini hasilnya dapat merefleksikan secara tepat realitas dari fenomena yang hendak diukur.
Digunakan indikator jamak, apabila untuk mengukur konsep dilakukan dengan lebih dari satu indikator empiris. Masing-masing indikator empiris tetap dipertahankan identitasnya, dalam hal ini tidak dilakukan penggabungan dalam suatu ringkasan skor. Penggunaan indikator jamak merupakan pilihan yang tepat untuk mengukur konsep-konsep sosial.
Digunakan indeks, apabila ada upaya untuk menggabungkan berbagai indikator jamak dalam suatu ringkasan skor. Dalam hal ini perlu dcari jalan keluar mengenai jumlah indikator empiris, bobot penilaian dalam penskalaan dan cara menggabungkan. Indikator empiris bentuk indeks sangat dibutuhkan dalam kegiatan analisis statistik terutama untuk menguji data kardinal.

B.     DALIL
1.    Pengertian
Secara tegas hubungan dua konsep atau lebih yang menjadi unsur pokok bangunan teori disebut dalil (Ihalauw, 1985: 57). Selanjutnya keberadaan dalil ditunjukan dengan adanya nisbah (garis yang menghubungkan) antara suatu konsep dengan konsep yang lain. Tampaknya istilah dalil lebuh jelas menunjukan adanya hubungan yang saling bertautan sedangkan proporsi mengacu pada arti pengembangan suatu konsep yang empiris (Taylor & Bogdan, 1984: 126-130). Dengan demikian dalil adalah pernyataan nisbah antar konsep dalam bentuk yang rasional selebihnya itu pengembangan hubungan antar konsep menjadi tanggungan proporsi yang mengaturnya.
Dalil berperan memberi tujuan yang tegas, dan membantu arah yang harus ditempuh dalam pembatasan lingkup penelitian dengan data-data empiris yang menjadi perhatian. Dalil memberikan acuan kepada peneliti supaya terhindarkan dari penelitian yang tak terarah dan tidak bertujuan, dimana dikumpulkan data atau informasi yang mungkin ternyata tidak ada hubungannya dengan masalah yang diteliti.

2.    Struktur Dalil
Membicarakan stuktur dalil, beberapa indikator akan muncul sebagai titik minat kajian.
a)    Konsep dalil ditunjukan manakala terjadi hubungan antara peubah bebas dan peubah gayut.
b)   Konsep dalil yang ditandai dengan nisbah memiliki arti atau penduga tertentu dalam dalil yang bersangkutan.
c)    Konsep dalil memiliki nilai informasi tertentu yang mengandung kadar kepentingan yang berlainan.
Struktur dalil dapat dilihat sederhana dan dapat dilihat secara kompleks. Dalil sederhana mengandung dua peubah yaitu peubah bebas dan peubah gayut tetapi dapat pula dijumpai peubah antara yang terletak di tengah dua peubah terdaulu. Tampaknya struktur dalil tidak selalu sederhana, dalam penelitian struktur dalil sering kelihatan kompleks karena memuat banyak peubah secara sistematik. Pengkajian terhadap struktur dalil yang komplek ini dilakukan dengan bertahap sehingga seluruh struktur dapat dilihat secara utuh.

3.    Hubungan yang Dikandung Suatu Dalil
Ada tiga kemungkinan pertautan yang diakndung suatu dalil, yaitu:
a)    Hubungan simetri, ini terjadi karena kedua peubah berdasar dari konsep yang sama dan kebetulan terjadi sehingga pertautan dengan nisbah nol.
K1 ...........K2
b)   Hubngan timbal balik, yaitu suatu dalil yang pertautan hubungannya berubah bersama-sama, atau peubah dalam dalil itu terjadi atau berada bersama. Tidak diketahui kandungan informasi peubah apa menyebabkan apa, dengan demikian tidak diketahui mana peubah bebas dan mana peubah gayut.
K1                     K2
c)    Hubungan a-simetri, yaitu suatu dalil yang memiliki konsep hubungan sebab dan akibat sehingga memiliki jenis peubah bebas dan gayut.
K1                     K2
Kusus untuk hubungan a-simetri memiliki tiga ragam bentuk dasar yang masih dikembangkan lagi, tiga bentuk tersebut yaitu:












 




4.    Arah yang Dikandung Suatu Dalil
Arah yang dikandung tautan yang dikandun oleh struktur dalil dibedakan menjadi tiga yaitu:
a)    Arah positif; terjadi jika perubahan pada suatu peubah (K1) dalam suatu struktur dalam diikuti oleh peubah yang lain (K2).
Oval: K2Oval: K1                                           












 
b)   Arah negatif; terjadi jika perubahan pada suatu peubah (K1) dalam suatu struktur dalil diikuti perubahan tidak searah oleh peubah yang lain (K2)


 
                                                           
c)    Oval: K1Tidak diketahui arahnya; terjadi jika perubahan pada suatu peubah berhubungan dengan peubah yang lain







Oval: K4

 




5.    Langkah-Langkah Perumusan Dalil
Merumuskan dalil berarti mengadakan pengujian empiris nisbah di antara dua konsep yang ada. pengujian itu menjadi tugas peneliti yaitu membuktikan nisbah di aras empiris. Dalam hal ini mencakup berbagai hipotesis statistik yang muncul dari berbagai hubungan antar konsep atau peubah. Sebuah hipotesis dengan demikian tampil sebagai pemaknaan nisbah diantara dua konsep atau pemaknaan sebuah dalil.
5.1.  Kekuatan pertautan dalil
Kekuatan nisbah antar konsep dilakukan dengan koefesien korelasi. Hasil perhitungan akan berkisar antar -1 sampai +1 dengan langkah ini dapat diketahui kesimpulan kekuatan nisbah pertautan dalil.
5.2.  Sifat tautan a-simetri  
Sifat tautan a-simetri (sebab-akibat) antar konsep dalm struktur dalil dapat diilih menjadi 5 pasang ragam tautan sebab-akibat;
5.2.1.      Reversible dan Ireversible
Reversible, bila X, maka Y; dan bila Y, maka X ada tenggang waktu antara X → Y untuk bebalik Y → X
X→Y; Y→X
Ireversible, bila X maka Y, tetapi bila Y maka tidak ada kesimpulan apapun yang dibuat tentang Y
5.2.2.      Determinastic dan Stockastic
Deterministic, bila X senantiasa Y, kata senantiasa menjadi kesimpulan mutlak X    Y
senantiasa
Stockastic, bila X maka mungkin Y
X    Y
mungkin
5.2.3.      Squential dan Coextensive
Squential, bila X maka kemudian Y. Pergantian atau giliran
X    Y
kemudian
Coextensive, bila X maka jugaY. Menunjukan kesejajaran pada gilirannya.
X    Y
   Juga

5.2.4.      Sufficient dan Contingent
Sufficient, bila X maka Y. tanpa perlu lagi ada yang lain. Kunci hubungan ini adalahmengeliminir konsep lain.
X                   Y
   Tak perlu yang lain
Contingent, bila X maka Y, tetapi hanya jika situasi Z. Dalam hal ini jiak hanya Z yang menjadi kata kunci yang mutlak diperhatikan
X      Y
   Bila Z
5.2.5.      Necessary dan Substitutable
Necessary, bila X dan hanya bila X maka Y. Maka X menjadi konsep yang mutlak menimbulakan nisbah dengan konsep Y
X             Y
    Hanya bila X
Substitutable, bila X maka Y. tetapi bila Z maka Y juga. Jadi dalam hal ini Z dapat menggantikan X dalam meramalkan Z


 




5.3.  Beda Dalil dan Hipotesis
Konsep dalil tidak banyak diketahui oleh peneliti. Tetapi hipotesis berkesan lebi bernilai informatif. Dalil memang memiliki kesamaan dengan hipotesis, hanya dalil berada di aras abstrak rendah sedangkan hipotesis berada di garis batas antara aras abstrak dan aras empiris, dengan demikian hipotesis memuat pernyataan yang jelas yang langsung dapat diuji kebenarannya.


Daftar Pustaka

Prihantana, Made Agus Suryadarma. 2012. Deskripsi Paradigma, Konsep, Dalil, Teori.(online) http:// Deskripsi (1) paradigma, (2) konsep, (3) dalil, dan (4) teori. _ Suryadarma Site.com. diakses hari senin tanggal 01 desember 2014 pukul 10.00 wib.
Salim, Agus M.S. 2006. Bangunan Teori: Metode Penelitian Untuk Bidang Sosial, Psikologi dan Pendidikan Edisi Kedua. Yogyakarta: Tiara Wacana.