Monday, December 14, 2015

FAKTA MASALAH



FAKTA MASALAH

AyoGitaBisa.com - Memperoleh pendidikan berkualitas di Indonesia sepertinya masih angan-angan. Banyak batu sandungan yang membuatnya sulit maju. Bukan hanya soal kurikulum, tapi kurangnya komitmen dari pihak berwenang memajukan kualitas pendidikan di Indonesia.

Padahal, Indonesia memiliki peluang sangat besar untuk maju dan bersaing dengan negara lain. Tapi jika sistem pendidikan dan SDM di dalamnya tidak dibenahi, maka wajar negara ini tertinggal semakin jauh. Perlu kerja sama dan integritas untuk mengatasi setiap permasalahan, mulai dari hulu ke hilir.

Berikut 5 masalah pendidikan di Indonesia yang mendesak segera diatasi:

1. UN Semrawut
Masih jelas dalam ingatan masyarakat Indonesia bagaimana pelaksanaan Ujian Nasional tahun ini yang masih kacau balau. Untuk tingkat SMA sederajat, UN mengalami penundaaan di 11 provinsi akibat terlambatnya pencetakan dan pendistribusian. Selain itu, ada saja keluhan di beberapa daerah tentang kurangnya lembar soal dan jawaban sehingga harus difotokopi sendiri pihak sekolah.

Profesionalisme Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam mengelola UN pun dipertanyakan. Kemendikbud dinilai tidak memiliki perencanaan matang dalam pelaksanaan UN sehingga hasilnya sangat memprihatinkan.

2. Infrastruktur Buruk
Berita mengenai sekolah ambruk tentu bukan hal baru. Kondisi ini tidak hanya terjadi pada bangunan sekolah yang sudah lama rusak, tapi juga bangunan sekolah baru. Disinyalir bahan baku bangunan berkualitas rendah. Parahnya, tak sedikit yang menelan korban jiwa.

Di DKI Jakarta saja disinyalir 30% bangunan sekolah terancam ambruk, dan berpotensi menimbulkan kerugian hingga Rp55 miliar. Sekolah-sekolah tersebut dimulai dari kayu-kayu berumur muda dan tidak diberi antirayap. "Kami menginginkan semua sekolah dibangun dari bahan baku baja ringan, karena yang paling bahaya kan bahan atap plafon karena itu paling standar," jelas Wakil Gubernur DKI, Basuki Tjahya Purnama atau Ahok seperti dikutip Tribunnews.com.

Selain buruknya bangunan sekolah,sarana prasarana penunjang lainnya juga belum memadai seperti tidak adanya perpustakaan.

3. Pornografi
Miris dan sedih saat mendengar beberapa kasus siswa yang melakukan adegan tidak senonoh yang terjadi baru-baru ini. Pornografi sudah merasuki kehidupan mereka yang masih belia. Bahkan sebuah data menyebutkan 68% siswa SD sudah aktif mengakses konten porno. Sebagian besar mengakses konten pornografi dari komik, games dan situs porno. Plus kemudahan mengakses situs pornografi melalui peredaran DVD maupun VCD, telepon seluler dan juga majalah atau koran.

Penggunaan teknologi yang tanpa kontrol jadi salah satu pemicu. "Anak-anak sudah semakin dekat dengan teknologi. Peredaran tablet maupun HP menjadi pemicu yang lebih buruk lagi, ujar Psikolog Klinis, Baby Jim Aditya seperti dilansir Sindonews.com.

Siapa yang salah? Orang tua, guru, sistem pendidikan hingga pemerintah sebagai pemangku kebijakan turut andil dalam persoalan ini. Karena sejatinya pendidikan bukan hanya soal belajar matematika atau Bahasa Indonesia, tapi ada pembelajaran moral dan etika yang lebih utama.

4. Konten Pornografi di Buku SD
Buku pegangan untuk siswa adalah penunjang dalam belajar. Tapi bagaimana jika di dalamnya ada konten yang tidak senonoh. Mungkin hanya di Indonesia kasus ini terjadi. Ada ada buku penunjang SD yang berisi konten cerita dewasa. Ini terjadi untuk kesekian kalinya. Seperti kasus di Bogor, ada buku SD untuk kelas 6 berjudul Aku Senang Belajar Bahasa Indonesia yang mengisahkan percintaan dan keperawanan.

Kasus ini jelas kecerobohan guru di sekolah karena tidak meneliti lebih dulu buku pegangan siswa. Seharusnya pihak sekolah menyeleksi setiap buku yang masuk apakah sesuai dengan nilai dan kaidah kesopanan. Tidak langsung menelan mentah-mentah apa yang disajikan di dalam buku.

5. Pengelolaan BOS Tidak Transparan
Sebanyak 87% sekolah tak transparan dalam pengelolaan dana bantuan operasional sekolah (BOS). Laporan yang dipublikasikan Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK) awal Desember lalu itu menyebutkan dari hasil uji akses pada 222 sekolah di beberapa provinsi, 87% di antaranya enggan memberikan informasi tentang pengelolaan BOS. Padahal pengelolaan BOS masuk dalam kategori informasi publik. Indonesia Corruption Watch (ICW) mencatat saat ini sudah ada 48 kasus penyelewengan dana BOS yang melibatkan 179 kepala sekolah.













Metode Pemecahan Masalah Menurut Para Ahli

Metode Pemecahan Masalah - Metode mengajar adalah teknik penyajian yang dikuasai guru untuk mengajar atau menyajikan bahan pelajaran kepada siswa di dalam kelas, baik secara individu maupun kelompok, agar pelajaran dapat diserap, dipahami dan dimanfaatkan oleh siswa dengan baik (Ahmadi, 1997:52).
Menurut Hamalik (1999:151) metode pemecahan masalah adalah suatu metode mengajar dengan cara siswa dihadapkan pada suatu masalah yang harus dipecahkannya berdasarkan data atau informasi yang akurat sehingga mendapatkan suatu kesimpulan. Sedangkan pemecahan masalah adalah suatu proses mental dan intelektual dalam menemukan suatu masalah dan memecahkannya berdasarkan data dan informasi yang akurat sehingga dapat diambil kesimpulan yang tepat dan cermat.
Metode pemecahan masalah memberikan kesempatan peserta didik berperan aktif dalam mempelajari, mencari dan menemukan sendiri informasi atau data untuk diolah menjadi konsep, prinsip, teori atau kesimpulan. Kemampuan memecahkan masalah harus ditunjang oleh kemampuan penalaran, yakni kemampuan melihat hubungan sebab akibat (Hamalik,1999:152 ).
Metode pemecahan masalah banyak digunakan guru bersama dengan penggunaan metode lain. Belajar memecahkan masalah adalah suatu kegiatan dimana siswa hendaknya terbiasa mengerjakan soal-soal yang tidak hanya memerlukan ingatan yang baik saja. Karena disamping memberikan masalah-masalah yang menantang selama di kelas, seorang guru matematika dapat saja memulai proses pembelajarannya dengan mengajukan masalah yang cukup menantang dan menarik bagi siswa. Siswa dan guru lalu bersama-sama memecahkan masalahnya tadi sambil membahas teori-teori, definisi-definisi maupun rumus-rumus matematika. Jadi dengan menggunakan metode ini guru tidak memberikan informasi dulu, tetapi informasi diperoleh siswa setelah memecahkan masalah.
Menurut Polya dalam Karso (1994:60) masalah dalam matematika bagi siswa adalah persoalan atau soal matematika, suatu persoalan atau soal matematika akan menjadi masalah bagi siswa jika :
Mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan ditinjau dari segi kematangan mental dan ilmunya.
Belum mempunyai algoritma atau prosedur untuk menyelesaikannya dan berkeinginan untuk menyelesaikannya.
Menurut Polya ada 4 langkah pemecahan masalah, yaitu :
1. Memahami masalah
Pada langkah ini Polya memberikan bimbingan kepada siswa bagaimana agar siswa tersebut dapat menentukan datanya atau apa yang diketahui dalam soal tersebut dan menentukan apa yang ditanyakan. Namun jika siswa mengalami kegagalan, maka guru dapat memberikan bimbingan dengan cara disuruh mengubah soal tersebut dengan kalimat sendiri. Selanjutnya siswa disuruh menulis apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan.

2. Menyusun rencana pemecahan
Kegiatan yang perlu dilaksanakan pada langkah ini antara lain, mencari hubungan antara data yang diketahui dengan ata yang belum diketahui, hal ini dapat dilakukan jika siswa mengerjakan langkah pertama benar. Hubungan yang diperoleh sesuai dengan rencana penelitian ini adalah satu atau dua cara yang perlu disederhanakan.
3. Melaksanakan rencana pemecahan
Melaksanakan rencana pemecahan masalah seperti yang telah dilaksanakan pada langkah kedua. Periksa setiap langkah dan harus dilihat dengan jelas bahwa langkah tersebut benar.
4. Memeriksa kembali
Kegiatan yang dilakukan pada langkah terakhir adalah memeriksa kembali hasil yang telah diperoleh dengan soal aslinya.
Secara umum langkah-langkah proses pembelajaran yaitu :
1. Tahap pendahuluan
Guru memberikan informasi kepada siswa tentang materi yang akan dipelajari, tujuan pembelajaran dan pemberian motivasi agar siswa tertarik pada materi
Guru membentuk siswa ke dalam kelompok yang sudah direncanakan
Mensosialisasikan kepada siswa tentang model pembelajaran yang digunakan dengan tujuan agar siswa dapat mengenal dan memahaminya guru memberikan apersepsi yang berkaitan dengan materi yang akan dipelajari
2. Tahap pengembangan
Mengembangkan materi pembelajaran sesuai dengan apa yang akan dipelajari siswa dalam kelompok. Siswa diberikan kesempatan untuk menyelesaikan soal bersama kelompoknya
Guru memantau kerja dari tiap-tiap kelompok dan membantu memilih soal-soal yang cocok dan membimbing siswa yang mengalami kesulitan
3. Tahap penerapan
Setelah siswa selesai mengerjakan soal dan yakin dengan jawaban yang diperoleh, lembar jawaban dikumpulkan untuk dinilai. Memanggil nomor siswa secara acak untuk menjawab atau menyelesaikan soal, supaya siswa selalu mempersipkan diri sebaik-baiknya
Guru dan siswa menjawab soal secara bersama-sama
4. Evaluasi
Evaluasi dilakukan dengan memberikan tes prestasi berupa tiga soal yang harus dikerjakan siswa secara individu tanpa saling membantu.
Menurut Gagne tahapan belajar yang lebih tinggi adalah belajar pemecahan masalah. Dalam tipe belajar ini siswa dihadapkan kepada masalah-masalah yang harus dipecahkannya. Pemecahan masalah dapat dilakukan secara individu atau kelompok. Kegiatan belajar pemecahan masalah biasanya meliputi lima langkah, yaitu:


1.      Mengidentifikasi masalah
Identifikasi masalah adalah suatu tahap permulaan dari penguasaan masalah dimana suatu objek tertentu dalam situasi tertentu dapat kita kenali sebagai suatu masalah. Identifikasi masalah bertujuan agar kita mendapatkan sejumlah masalah yang nantinya akan diselesaikan atau dicari cara penyelesaiannya.
2.      Merumuskan dan membatasi masalah
Pembatasan masalah ialah usaha untuk menetapkan batasan-batasan dari masalah yang akan dipecahkan. Batasan masalah ini berguna untuk mengidentifikasi faktor mana saja yang termasuk dalam ruang lingkup masalah dan yang tidak termasuk dalam ruang lingkup masalah .
3.      Menyusun pertanyaan-pertanyaan
Pada tahap ini yang dilakukan adalah membuat pertanyaan-pertanyaan yang nantinya akan dijawab atau dicarikan jalan pemecahannya. Pertanyaan yang akan dibuat didasarkan atas identifikasi dan pembatasan masalah.
4.      Mengumpulkan data
Pada tahap ini yang dilakukan adalah mengumpulkan data-data atau informasi yang akurat yang berhubungan dengan masalah yang akan diselesaikan.
5.      Merumuskan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan serta kesimpulan.
Dari pertanyaan-pertanyaan yang dibuat sebelumnya kita merumuskan jawaban berdasarkan data dan informasi yang ada, sehingga dapat diambil suatu kesimpulan.
Dalam proses pembelajaran, disamping perlunya penalaran yang baik juga diperlukan menguasai langkah-langkah memecahkan masalah secara tepat. Menurut John Deway (Dalam Ahmadi, 1997 :123), langkah-langkah yang harus dicapai dalam memecahkan masalah adalah sebagai berikut :
a.       Menyadari dan merumuskan masalah
b.      Merumuskan hipotesis
c.       Mengumpulkan dan mengolah data
d.      Menguji hipotesis dangan data
e.       Menarik kesimpulan
Adapun beberapa kelebihan metode pemecahan masalah :
a.       Mendidik siswa berpikir secara sistematis
b.      Mampu mencari berbagai jalan keluar dari suatu kesulitan yang dihadapi
c.       Menganalisis suatu masalah dari beberapa aspek
d.      Mendidik siswa agar tidak mudah putus asa dalam menghadapi kesulitan
e.       Mendidik siswa percaya pada diri sendiri


Adapun beberapa kelemahan metode pemecahan masalah :
Tidak semua siswa dapat menentukan masalah. Memerlukan waktu yang banyak untuk menemukan suatu masalah.



DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, A. dan J.T. Prasetya. 1997. Strategi Belajar Mengajar (SBM). Bandung: Pustaka Setia.
Hamalik, O. 1999. Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung : Sinar Baru Algensindo.
Gagne. R. M. 1988. Prinsip-Prinsip Belajar Untuk Pengajaran. Surabaya: Usaha Nasional..
Buku paket, yaitu Nuniek Avianti Agus. 2008. mudah belajar matematika 2 Untuk Kelas VIII Sekolah Menenga /Madrasah Tsanawiyah. Jakarta: Pusat Perbukuan
Departemen Pendidikan Nasional