Kita manusia biasa yang memiliki cinta/kasi sayang.
Tiada yang salah karena cinta adalah anugrah.
Justru cintalah yang memanusiakan manusia, mewarnai
kehidupan dan menerbitkan harapan. Tiada masalah ada cinta
pada insan manusia dan tiada pernah pula Allah karuniakan
selaksa cinta untuk menyiksa. Allah turunkan cinta agar
dua insan dapat bersama dalam satu bahtera asa.
Cinta adalah anugrah pemberian Allah dan karunia-Nya. Allah
menamakan rasa cinta pada jiwa kita sebagai bentuk dari rasa
cinta-Nya kepada kita agar kita "berfikir" tentang-Nya.
Cinta bagi manusia adalah bagian dari fitrah, bagian dari
naluri-naluri, naluri yang tidak dapat diindra mata, namunterdapat
pada manusia dan ia menuntut pemenuhan.
Naluribisa jadi naluri untuk mempertahankan eksistensi dan
berorientasi pada diri sendiri seperti, rasa ingin dihargai, takut
bila merasa terancam, dan lainnya. Bisa juga naluri untuk
melanjutkan keturunan seperti, rasa sayang terhadap orangtua
dan anak, saudara, ataupun lawan jenis. Bisa juga mewujud
dalam naluri untuk menyucikan sesuatu seperti rasa takjub saat
melihat sesuatu yang agung ataupun naluri beragama itu sendiri.
Saturday, November 21, 2015
Friday, November 13, 2015
BANGUNAN TEORI (KONSE dan DALIL)
TUGAS KELOMPOK
BANGUNAN TEORI (KONSE dan DALIL)
KATA PENGANTAR
Puji syukur penyusun panjatkan kepada Allah SWT yang
memberikan rahmat-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah Bangunan
Teori (Konsep dan Dalil). Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas pada Mata
Kuliah “Filsafat Sains dan Bioetika” yang diampu oleh Dr. Achyani, M.Si. Dengan
adanya makalah ini diharapkan dapat menambah wawasan kita tentang pentingnya
mempelajari Filsafat Sains dan Bioetika.
Tak lupa penyusun ucapkan terima kasih kepada semua
pihak yang telah membantu penyusun dalam menyelesaikan tugas ini, baik bantuan
material maupun bantuan berupa dorongan semangat sehingga penyusun dapat
menyelesaikan tugas ini dengan tepat waktu.
Akhir kata, tak ada gading yang tak retak demikian
pula dengan penulisan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan, oleh karena
itu penyusun meminta kritik dan saran yang bersifat membangun sehingga nantinya
dalam menyusun makalah selanjutnya jauh lebih baik.
Metro, Desember 2014
Tim Penyusun
DAFTAR ISI
COVER ................................................................................................. i
KATA
PENGANTAR ........................................................................... ii
DAFTAR ISI ......................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................
A. Latar Belakang .......................................................................
B.Rumusan Masalah ...................................................................
C.Tujuan Penulisan Masalah .......................................................
BAB II PEMBAHASAN .....................................................................
A.Konsep ....................................................................................
1. Pengertian ...............................................................................
2. Langkah-Langkah Menyusun Konsep ....................................
3. Macam Konsep dan Pengukurannya ......................................
4. Keteatan dalam Pengukuran Konsep ......................................
B.Teori ........................................................................................
1. Pengertian ...............................................................................
2. Struktur Dalil ..........................................................................
3. Hubungan yang Dikandung Suatu Dalil .................................
4. Arah yang Dikandung Suatu Dalil...........................................
5. Langkah-Langkah Perumusan Dalil........................................
BAB III PENUTUP .............................................................................
A.Kesimpulan .............................................................................
DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................
BAB II
PPEMBAHASAN
A.
KONSEP
1.
Pengertian
Menurut Mullins (1971: 7-17) konsep adalah ekspresi ide (pemikiran) dalam
bentuk kata-kata. Suatu konsep dapat dibagi menjadi berbagai sub-konsep, dan
dari sub-konsep dapat dibagi menjadi berbagai klasifikasi peubah (variabel).
2.
Langkah-Langkah Menyusun
Konsep
a. Menemukan Situasi Problematik dan Merumuskannya
Situasi
problematis dapat muncul dari aras berpikir abstrak dan juga aras berpikir
empiris. Sumber problematik yang berasal dari aras abstrak meliputi teori-teori
yang telah mapan, hasil penelitian dan diskusi-diskusi. Sumber problematik yang
berasal dari aras empiris meliputi fakta-fakta yang diamati dan pengalaman sendiri.
Situasi
problematis adalah keadaan atau periatiwa yang gagasan-gagasan tentangnya masih
kabur, yang menimbulkan keraguan, yang menghentakkan para peneliti untuk
berpikir agar dapat diperoleh kejelasan. Istilah problematik sendiri memiliki
pengertian ada kesenjangan antara situasi yang diharapkan dengan situasi nyata.
Apabila
situasi yang problematis telah ditemukan, langkah berikutnya adalah merumuskan
suatu masalah untuk ditelaah secara mendalam. Dalam membuat rumusan masalah
biasanya dalam bentuk kalimat introgatif. Istilah situasi yang problematis menurut
pemahaman isi sebenarnya dekat dengan istilah Societal problema. Societal
problema mengandung pengertian masalah-masalah yang ada dan dirsakan oleh
lapisan masyarakat dimana penelitian itu dilaksanakan. Menemukan situasi yang
problematis dapat pula melalui pengamatan lapangan yaitu mengenal latar
belakang masalah, menemukan sosok masalah dan kemudian menentukan titik
minatnya.
b.
Merumuskan Persoalan dalam
Penelitian
Rumusan persoalaan penelitian pada dasarnya
merupakan pertanyaan mengenai konsep yang diminati. Perangkat pertanyaan itu
merupakan alat untuk mempertajam permasalahan lebih rinci yang hendak dikaji
secara mendalam dari konsep konsep yang diminati. Hal-hal yang diperhatikan
adalah;
1) Apakah yang menjadi masalah penelitian itu merupakan profil konsep,
nisbah konsep, perbandingan nisbah-konsep atau perbandingan nisbah antar konsep
atau sistem dalil?
2) Jenis kata tanya apa yang muncul dalam rumusan persoalan kata apa (memberi
gambaran), bagaimana (menginginkan cara atau proses), mengapa (butuh
analisis), sejauh mana (menginginkan ada prediksi atau peramalan), dan
lain-lain.
3) Ada kalanya orang hanya ingin menggunakan analisis statistik tetapi ada
kalanya hanya jenis analisis non-statistik. Disamping itu saat ini ada arus
berpikir analitis yang menghendaki penggunaan kedua jenis analisis tersebut
secara bersama-sama. Pemanfaatan jenis analisis statistik dan non-staistik ada
yang menyebutnya sebagai analisis spiral, dengan resiko penggunaan kedua jenis
alat analisis tersebut berulang-ulang sampai ditemukannya kebenaran ilmu. Dalam
kajian statistik hubungan antar konsep ditunjukan dengan adanya hubungan antara
dua konsep atau lebih, yaitu hubungan simetri, hubungan timba-balik dan
hubungan a-simetri. Sedangkan kajian non-statistik hubungan antar konsep yang
dikaji ialah ada tidaknya makna, arti dan kepentingannya.
4) Dalam analisis statistik hubungan nisbah antar konsep langsug dapat
ditandai sebagai sejumlah peubah bebas dan suatu peubah gayut.
5) Dalam mengkaji nisbah antar konsep, maka perlu menjawab masalah
penelitian berkenaan dengan ada tidaknya nisbah, arah nisbah, sifat nisbah.
c.
Unit Analisis
Unit analisis ialah keberadaan dari populasi yang
tentangnya dibuat kesimpulan atau kerapatan empiris satuan analisis dapat
dinyatakan dengan intensional (apabila populasi digariskan dengan tolak
ukur yang eksplisit tertentu) dan ekstensional (apabila semua anggota
populasi didaftar secara eksplisit). Manfaat unit analisis secara intensional
adalah bahwa satuan analisis terbuka secara empiris. Apabila tolak ukur
berubah, maka populasi akan bergeser pula, sehingga memudahkan ekstrapolasi
lintas ruang dan waktu.
d.
Membentuk Konsep dan Mentakrifnya
Konsep dalam bangunan teori dibentuk dari persepsi
masing-masing ilmuan secara logis berdasarkan pengalaman lapangan. Abraham
kaplan (1963:34-35) menyatakan ‘Perception is fundamental to all science.
And appropriate action on things depends on experience of them: only empirical
knowledge provides a basis for successful action’. Konsep digunakan sebagai
patokan dasar sekarang unruk dapat berkomunikasi atau memecahkan masalah
melalui makna dari simbol-simbol yang di sepakati bersama.
Simbol ada dua, yaitu simbol primitif
merupakan simbol yang nyata serta alamiah untuk menunjuk benda atau contoh yang
dimaksud. Dan simbol turunan atau simbol nominal merupakan simbol yang
diturunkan untuk menggambarkan keberadaan benda atau fenomena kejadian tertentu
yang dapat diturunkan melalui angka.
Setiap disiplin ilmu memiliki simbol-simbol teknis
sendiri, dengan demikian akan berbeda simbol yan berlaku di ilmu ekonomi,
sosial, filsafat, kimia, biologi dan lain-lain. Dalam masing-masing komunitas
keilmuan simbol yang akan digunakan harus dinyatakan melalui definisi (takrif)
atau batasan. Hal ini bertujuan untuk:
a) Menghilangkan kerancuan berpikir yang disebabkan pertentangan verbal dan
mungkin juga karena perbedaan yang hakiki (substansial).
b) Mengurangi kekaburan, sehingga memudahkan orang menguasai petunjuk
pelaksanaan. Kalau satu konsep dapat diartikan lebih dari satu ngertian maka
konsep tersebut redanden, dan mungkin juga satu konsep tak jelas tapal
batasanya.
c) Konsep dapat mejelaskan karakteristik suatu teori tertentu yang penad
dengan masalah peneitian.
d) Untuk menarik minat orang lain karena dengan mentakrif konsep dapat
mengajak orang memahami konsep secara mendalam.
3. Macam Konsep dan Pengukurannya
Konsep dibedakan dalam dua jenis yang memiliki konsekuensi informasi yang
dikandungnya.
a) Atribut (attribute), yaitu konep yang memiliki ciri khas (property)
yang dikandungnya sehingga dapat dibedakan. Konsep semacam ini juga mengandung
informasi yang bersifat kategorikal, yaitu susunan pengertian atau dalam bentuk
pernyataan yang telah dibentuk oleh akal manusia (diberi makna). Konsep atribut
sering diungkap dalam penelitian kualitatif yang bertujuan untuk membangun pemahaman
baru atas realistik sosial.
b) Peubah (variabel) yaitu konsep yang mengandung ciri khas (properti)
yang dapat diukur (menunjukan suatu derajat). Konsep peubah ini memiliki empat
aras pengukuran, yaitu aras pengukuran nominal, ordinal, interval, dan rasional
(NOIR)
Aras pengukuran interval dan rasional sering disebut aras pengukuran
kardinal dan sering kali pembedaan kedua aras pengukuran itu bersifat akademis.
Pemahaman tentang pertautan antara macam konsep (atribut dan peubah) dan aras
pengukuran konsep (NOIR) mutlak penting karena memiliki implikasi terhap
instrumen yang digunakan untuk mengukur konsep itu. Analisis statistik menjadi tulang
punggung dalam pengukuran konsep yang brupa peubah.
Konsep atribut memiliki aras pengukuran nominal yang secara empiris hanya
dapat diidentifikasi untuk dipahami. Dalam kegiatan analisis statistik, arus
pengukuran nominal dan sebagian ordinal dapat dikaji dengan jenis statistik
non-parametrik. Analisis non-parametrik memiliki keunggulan yaitu tidak
melibatkan parameter populasi, dapat membaca data yang berasal dari skala
lemah, dapat dipaka meskipun konsepnya lemah dan cepat dikerjakan meskipun
secara manual (Daniel, 1989: 22-23)
Konsep peubah (variabel) memiliki aras pengukuran ordinal, interval dan
rasional. Secara empiris dapat dilakukan penskalaan, yang kemudian dapat dikaji
dengan jenis statistik prametrik. Data jenis kardinal memiliki keistimewaan,
karena pensekalaan yang halus maka tingkat kejelasannya lebih baik. Oleh karena
itu data kardinal dapat langsung menggunakan uji statistik parametrik dalam
kegiatan analisis. Dari uraian tersebut, beberapa hal perlu diperhatikan untuk
penggunaan kajian statistik:
a) Bila semua konsep dalam model diukur pada aras normal maka secara
langsung dapat digunakan teknik non-parametrik statistik.
b) Apabila semua konsep dapat diukur di aras ordinal, maka dapat langsung
digunakan teknik analisis non-parametrik yang digunakan.
c) Apabila semua konsep dalam model itu diukur pada aras kardinal maka
teknik statistik parametrik cocok digunakan.
d) Apabila dalam model terdapat konsep-konsep yang diukur pada aras yang
berbeda maka tersedia berbagai teknik tatistik.
e) Mengubah aras pengukuran konsep hanya dapat dilakukan dari yang pada
dasarnya kuantitatif ke yang kualitatif.
4.
Ketepatan dalam Pengukuran
Konsep
Ada beberapa hal yang
perlu diperhatikan dalam pengkuran konsep penelitian. Dalam hal ini perlu
disadari bahwa mengukur konsep adalah suatu peristiwa di luar bangunan teori,
tetapi cukup menentukan apakah suatu konsep tersebut dapat diukur atau
dibuktikan di aras empirik.
Konsep tengahan yang
berasal dari penjabaran teori besar masih perlu dijabarkan dalam konsep rendahan
(teori rendahan) yang mengandung matra tunggal sehigga dapat langsung dicarikan
indikator empiris di aras empiris. Indikator empiris juga disebut ‘auxiliary
theory’ yang membuka peluang proses terjemahan konsepsi abstrak pada aras
empiris. Dalam keadaan tertentu dapat terjadi penggunaan indikator empiris yang
dapat menimbulkan nisbah semu antar indikator empiris atau indikator empiris
dengan konsep abstrak.
Apakah memang indkator
empiris yang dipilih itu senyatanya mampu mengukur secara tepat konsep terentu,
masih harus dibuktikan. Pembuktian ini kemudian dikenal sebagai kesahihan
(validity) dan keterandalan (reability) dari suatu indikator
empiris. Jenis kesahihan dan keterandalan suatu indkator empiris dapat diuji
dengan teknik statistik dan non-statistik, tergantung pada jenis konsep yang
ada (atribut dan peubah).
Jumlah indikator empiris
untuk mengukur sebuah konsep bersifat relatif; dapat digunakan indikator
tunggal, jamak dan indeks. Digunakan indikator tunggal, apabila hanya
dengan satu indikator empiris tersebut dapat diukur konsep yang ada di aras
abstrak. Dalam hal ini hasilnya dapat merefleksikan secara tepat realitas dari
fenomena yang hendak diukur.
Digunakan indikator jamak,
apabila untuk mengukur konsep dilakukan dengan lebih dari satu indikator
empiris. Masing-masing indikator empiris tetap dipertahankan identitasnya,
dalam hal ini tidak dilakukan penggabungan dalam suatu ringkasan skor. Penggunaan
indikator jamak merupakan pilihan yang tepat untuk mengukur konsep-konsep
sosial.
Digunakan indeks, apabila
ada upaya untuk menggabungkan berbagai indikator jamak dalam suatu ringkasan
skor. Dalam hal ini perlu dcari jalan keluar mengenai jumlah indikator empiris,
bobot penilaian dalam penskalaan dan cara menggabungkan. Indikator empiris
bentuk indeks sangat dibutuhkan dalam kegiatan analisis statistik terutama
untuk menguji data kardinal.
B.
DALIL
1.
Pengertian
Secara tegas hubungan dua
konsep atau lebih yang menjadi unsur pokok bangunan teori disebut dalil
(Ihalauw, 1985: 57). Selanjutnya keberadaan dalil ditunjukan dengan adanya
nisbah (garis yang menghubungkan) antara suatu konsep dengan konsep yang lain.
Tampaknya istilah dalil lebuh jelas menunjukan adanya hubungan yang saling
bertautan sedangkan proporsi mengacu pada arti pengembangan suatu konsep yang
empiris (Taylor & Bogdan, 1984: 126-130). Dengan demikian dalil adalah
pernyataan nisbah antar konsep dalam bentuk yang rasional selebihnya itu
pengembangan hubungan antar konsep menjadi tanggungan proporsi yang
mengaturnya.
Dalil berperan memberi
tujuan yang tegas, dan membantu arah yang harus ditempuh dalam pembatasan
lingkup penelitian dengan data-data empiris yang menjadi perhatian. Dalil
memberikan acuan kepada peneliti supaya terhindarkan dari penelitian yang tak
terarah dan tidak bertujuan, dimana dikumpulkan data atau informasi yang
mungkin ternyata tidak ada hubungannya dengan masalah yang diteliti.
2.
Struktur Dalil
Membicarakan stuktur
dalil, beberapa indikator akan muncul sebagai titik minat kajian.
a) Konsep dalil ditunjukan manakala terjadi hubungan antara peubah bebas dan
peubah gayut.
b) Konsep dalil yang ditandai dengan nisbah memiliki arti atau penduga
tertentu dalam dalil yang bersangkutan.
c) Konsep dalil memiliki nilai informasi tertentu yang mengandung kadar
kepentingan yang berlainan.
Struktur dalil dapat
dilihat sederhana dan dapat dilihat secara kompleks. Dalil sederhana mengandung
dua peubah yaitu peubah bebas dan peubah gayut tetapi dapat pula dijumpai
peubah antara yang terletak di tengah dua peubah terdaulu. Tampaknya struktur
dalil tidak selalu sederhana, dalam penelitian struktur dalil sering kelihatan
kompleks karena memuat banyak peubah secara sistematik. Pengkajian terhadap
struktur dalil yang komplek ini dilakukan dengan bertahap sehingga seluruh
struktur dapat dilihat secara utuh.
3.
Hubungan yang Dikandung
Suatu Dalil
Ada tiga kemungkinan
pertautan yang diakndung suatu dalil, yaitu:
a) Hubungan simetri, ini terjadi karena kedua peubah berdasar dari konsep
yang sama dan kebetulan terjadi sehingga pertautan dengan nisbah nol.
K1 ...........K2
b) Hubngan timbal balik, yaitu suatu dalil yang pertautan hubungannya
berubah bersama-sama, atau peubah dalam dalil itu terjadi atau berada bersama.
Tidak diketahui kandungan informasi peubah apa menyebabkan apa, dengan demikian
tidak diketahui mana peubah bebas dan mana peubah gayut.
c) Hubungan a-simetri, yaitu suatu dalil yang memiliki konsep hubungan sebab
dan akibat sehingga memiliki jenis peubah bebas dan gayut.
Kusus untuk hubungan
a-simetri memiliki tiga ragam bentuk dasar yang masih dikembangkan lagi, tiga
bentuk tersebut yaitu:
![]() |
|||||
![]() |
|||||
4.
Arah yang Dikandung
Suatu Dalil
Arah yang dikandung tautan
yang dikandun oleh struktur dalil dibedakan menjadi tiga yaitu:
a) Arah positif; terjadi jika perubahan pada
suatu peubah (K1) dalam suatu struktur dalam diikuti oleh peubah yang
lain (K2).
b) Arah negatif; terjadi jika perubahan pada
suatu peubah (K1) dalam suatu struktur dalil diikuti perubahan tidak searah
oleh peubah yang lain (K2)
![]() |
c)
Tidak diketahui arahnya; terjadi jika
perubahan pada suatu peubah berhubungan dengan peubah yang lain
![]() |
|||
5.
Langkah-Langkah
Perumusan Dalil
Merumuskan dalil berarti mengadakan
pengujian empiris nisbah di antara dua konsep yang ada. pengujian itu menjadi
tugas peneliti yaitu membuktikan nisbah di aras empiris. Dalam hal ini mencakup
berbagai hipotesis statistik yang muncul dari berbagai hubungan antar konsep
atau peubah. Sebuah hipotesis dengan demikian tampil sebagai pemaknaan nisbah
diantara dua konsep atau pemaknaan sebuah dalil.
5.1. Kekuatan pertautan dalil
Kekuatan
nisbah antar konsep dilakukan dengan koefesien korelasi. Hasil perhitungan akan
berkisar antar -1 sampai +1 dengan langkah ini dapat diketahui kesimpulan
kekuatan nisbah pertautan dalil.
5.2. Sifat tautan a-simetri
Sifat tautan
a-simetri (sebab-akibat) antar konsep dalm struktur dalil dapat diilih menjadi 5
pasang ragam tautan sebab-akibat;
5.2.1.
Reversible dan
Ireversible
Reversible, bila X, maka Y; dan bila Y, maka X ada tenggang waktu antara X → Y
untuk bebalik Y → X
X→Y; Y→X
Ireversible, bila X maka Y, tetapi bila Y maka tidak ada kesimpulan apapun yang
dibuat tentang Y
5.2.2.
Determinastic
dan Stockastic
Deterministic, bila X senantiasa Y, kata senantiasa menjadi
kesimpulan mutlak X → Y
senantiasa
Stockastic, bila X maka mungkin Y
X → Y
mungkin
5.2.3.
Squential dan
Coextensive
Squential, bila X maka kemudian Y. Pergantian atau giliran
X → Y
kemudian
Coextensive, bila X maka jugaY. Menunjukan kesejajaran pada gilirannya.
X → Y
Juga
5.2.4.
Sufficient dan
Contingent
Sufficient, bila X maka Y. tanpa perlu lagi ada yang lain. Kunci hubungan ini
adalahmengeliminir konsep lain.
X →
Y
Tak perlu yang lain
Contingent, bila X maka Y, tetapi hanya jika situasi Z. Dalam hal ini jiak hanya Z
yang menjadi kata kunci yang mutlak diperhatikan
X → Y
Bila Z
5.2.5.
Necessary dan
Substitutable
Necessary, bila X dan hanya bila X maka Y. Maka X menjadi konsep yang mutlak menimbulakan
nisbah dengan konsep Y
X → Y
Hanya
bila X
Substitutable, bila X maka Y. tetapi bila Z maka Y juga. Jadi dalam hal ini Z dapat
menggantikan X dalam meramalkan Z
![]() |
5.3. Beda Dalil dan Hipotesis
Konsep dalil
tidak banyak diketahui oleh peneliti. Tetapi hipotesis berkesan lebi bernilai
informatif. Dalil memang memiliki kesamaan dengan hipotesis, hanya dalil berada
di aras abstrak rendah sedangkan hipotesis berada di garis batas antara aras
abstrak dan aras empiris, dengan demikian hipotesis memuat pernyataan yang
jelas yang langsung dapat diuji kebenarannya.
Daftar
Pustaka
Prihantana, Made Agus
Suryadarma. 2012. Deskripsi Paradigma, Konsep, Dalil, Teori.(online) http://
Deskripsi (1) paradigma, (2) konsep, (3) dalil, dan (4) teori. _
Suryadarma Site.com. diakses hari senin tanggal 01 desember 2014 pukul 10.00
wib.
Salim, Agus M.S. 2006. Bangunan
Teori: Metode Penelitian Untuk Bidang Sosial, Psikologi dan Pendidikan Edisi
Kedua. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Subscribe to:
Comments (Atom)




