Saturday, November 21, 2015

Cinta Itu Fitrah

Kita manusia biasa yang memiliki cinta/kasi sayang.
Tiada yang salah karena cinta adalah anugrah.
Justru cintalah yang memanusiakan manusia, mewarnai
kehidupan dan menerbitkan harapan. Tiada masalah ada cinta
pada insan manusia dan tiada pernah pula Allah karuniakan
selaksa cinta untuk menyiksa. Allah turunkan cinta agar
dua insan dapat bersama dalam satu bahtera asa.

Cinta adalah anugrah pemberian Allah dan karunia-Nya. Allah
menamakan rasa cinta pada jiwa kita sebagai bentuk dari rasa
cinta-Nya kepada kita agar kita "berfikir" tentang-Nya.
Cinta bagi manusia adalah bagian dari fitrah, bagian dari
naluri-naluri, naluri yang tidak dapat diindra mata, namunterdapat
pada manusia dan ia menuntut pemenuhan.

Naluribisa jadi naluri untuk mempertahankan eksistensi dan
berorientasi pada diri sendiri seperti, rasa ingin dihargai, takut
bila merasa terancam, dan lainnya. Bisa juga naluri untuk
melanjutkan keturunan seperti, rasa sayang terhadap orangtua
dan anak, saudara, ataupun lawan jenis. Bisa juga mewujud
dalam naluri untuk menyucikan sesuatu seperti rasa takjub saat
melihat sesuatu yang agung ataupun naluri beragama itu sendiri.

Friday, November 13, 2015

BANGUNAN TEORI (KONSE dan DALIL)



TUGAS KELOMPOK
BANGUNAN TEORI (KONSE dan DALIL)



KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan kepada Allah SWT yang memberikan rahmat-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah Bangunan Teori (Konsep dan Dalil). Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas pada Mata Kuliah “Filsafat Sains dan Bioetika” yang diampu oleh Dr. Achyani, M.Si. Dengan adanya makalah ini diharapkan dapat menambah wawasan kita tentang pentingnya mempelajari Filsafat Sains dan Bioetika.
Tak lupa penyusun ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penyusun dalam menyelesaikan tugas ini, baik bantuan material maupun bantuan berupa dorongan semangat sehingga penyusun dapat menyelesaikan tugas ini dengan tepat waktu.
Akhir kata, tak ada gading yang tak retak demikian pula dengan penulisan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan, oleh karena itu penyusun meminta kritik dan saran yang bersifat membangun sehingga nantinya dalam menyusun makalah selanjutnya jauh lebih baik.




                                                            Metro,   Desember 2014


Tim Penyusun






DAFTAR ISI

COVER .................................................................................................        i
KATA PENGANTAR ...........................................................................        ii
DAFTAR ISI .........................................................................................        iii
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................       
A. Latar Belakang .......................................................................                   
B.Rumusan Masalah ...................................................................       
C.Tujuan Penulisan Masalah .......................................................       
BAB II PEMBAHASAN .....................................................................       
A.Konsep ....................................................................................       
1. Pengertian ...............................................................................
2. Langkah-Langkah Menyusun Konsep ....................................
3. Macam Konsep dan Pengukurannya ......................................
4. Keteatan dalam Pengukuran Konsep ......................................
B.Teori ........................................................................................       
1. Pengertian ...............................................................................
2. Struktur Dalil ..........................................................................
3. Hubungan yang Dikandung Suatu Dalil .................................
4. Arah yang Dikandung Suatu Dalil...........................................
5. Langkah-Langkah Perumusan Dalil........................................
BAB III PENUTUP .............................................................................       
A.Kesimpulan .............................................................................       
DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................       








BAB II
PPEMBAHASAN


A.    KONSEP
1.    Pengertian
Menurut Mullins (1971: 7-17) konsep adalah ekspresi ide (pemikiran) dalam bentuk kata-kata. Suatu konsep dapat dibagi menjadi berbagai sub-konsep, dan dari sub-konsep dapat dibagi menjadi berbagai klasifikasi peubah (variabel).
2.    Langkah-Langkah Menyusun Konsep
a.    Menemukan Situasi Problematik dan Merumuskannya
Situasi problematis dapat muncul dari aras berpikir abstrak dan juga aras berpikir empiris. Sumber problematik yang berasal dari aras abstrak meliputi teori-teori yang telah mapan, hasil penelitian dan diskusi-diskusi. Sumber problematik yang berasal dari aras empiris meliputi fakta-fakta yang diamati dan pengalaman sendiri.
Situasi problematis adalah keadaan atau periatiwa yang gagasan-gagasan tentangnya masih kabur, yang menimbulkan keraguan, yang menghentakkan para peneliti untuk berpikir agar dapat diperoleh kejelasan. Istilah problematik sendiri memiliki pengertian ada kesenjangan antara situasi yang diharapkan dengan situasi nyata.
Apabila situasi yang problematis telah ditemukan, langkah berikutnya adalah merumuskan suatu masalah untuk ditelaah secara mendalam. Dalam membuat rumusan masalah biasanya dalam bentuk kalimat introgatif. Istilah situasi yang problematis menurut pemahaman isi sebenarnya dekat dengan istilah Societal problema. Societal problema mengandung pengertian masalah-masalah yang ada dan dirsakan oleh lapisan masyarakat dimana penelitian itu dilaksanakan. Menemukan situasi yang problematis dapat pula melalui pengamatan lapangan yaitu mengenal latar belakang masalah, menemukan sosok masalah dan kemudian menentukan titik minatnya.
b.   Merumuskan Persoalan dalam Penelitian
Rumusan persoalaan penelitian pada dasarnya merupakan pertanyaan mengenai konsep yang diminati. Perangkat pertanyaan itu merupakan alat untuk mempertajam permasalahan lebih rinci yang hendak dikaji secara mendalam dari konsep konsep yang diminati. Hal-hal yang diperhatikan adalah;
1)      Apakah yang menjadi masalah penelitian itu merupakan profil konsep, nisbah konsep, perbandingan nisbah-konsep atau perbandingan nisbah antar konsep atau sistem dalil?
2)      Jenis kata tanya apa yang muncul dalam rumusan persoalan kata apa (memberi gambaran), bagaimana (menginginkan cara atau proses), mengapa (butuh analisis), sejauh mana (menginginkan ada prediksi atau peramalan), dan lain-lain.
3)      Ada kalanya orang hanya ingin menggunakan analisis statistik tetapi ada kalanya hanya jenis analisis non-statistik. Disamping itu saat ini ada arus berpikir analitis yang menghendaki penggunaan kedua jenis analisis tersebut secara bersama-sama. Pemanfaatan jenis analisis statistik dan non-staistik ada yang menyebutnya sebagai analisis spiral, dengan resiko penggunaan kedua jenis alat analisis tersebut berulang-ulang sampai ditemukannya kebenaran ilmu. Dalam kajian statistik hubungan antar konsep ditunjukan dengan adanya hubungan antara dua konsep atau lebih, yaitu hubungan simetri, hubungan timba-balik dan hubungan a-simetri. Sedangkan kajian non-statistik hubungan antar konsep yang dikaji ialah ada tidaknya makna, arti dan kepentingannya.
4)      Dalam analisis statistik hubungan nisbah antar konsep langsug dapat ditandai sebagai sejumlah peubah bebas dan suatu peubah gayut.
5)      Dalam mengkaji nisbah antar konsep, maka perlu menjawab masalah penelitian berkenaan dengan ada tidaknya nisbah, arah nisbah, sifat nisbah.
c.    Unit Analisis
Unit analisis ialah keberadaan dari populasi yang tentangnya dibuat kesimpulan atau kerapatan empiris satuan analisis dapat dinyatakan dengan intensional (apabila populasi digariskan dengan tolak ukur yang eksplisit tertentu) dan ekstensional (apabila semua anggota populasi didaftar secara eksplisit). Manfaat unit analisis secara intensional adalah bahwa satuan analisis terbuka secara empiris. Apabila tolak ukur berubah, maka populasi akan bergeser pula, sehingga memudahkan ekstrapolasi lintas ruang dan waktu.
d.   Membentuk Konsep dan Mentakrifnya
Konsep dalam bangunan teori dibentuk dari persepsi masing-masing ilmuan secara logis berdasarkan pengalaman lapangan. Abraham kaplan (1963:34-35) menyatakan ‘Perception is fundamental to all science. And appropriate action on things depends on experience of them: only empirical knowledge provides a basis for successful action’. Konsep digunakan sebagai patokan dasar sekarang unruk dapat berkomunikasi atau memecahkan masalah melalui makna dari simbol-simbol yang di sepakati bersama.
Simbol ada dua, yaitu simbol primitif merupakan simbol yang nyata serta alamiah untuk menunjuk benda atau contoh yang dimaksud. Dan simbol turunan atau simbol nominal merupakan simbol yang diturunkan untuk menggambarkan keberadaan benda atau fenomena kejadian tertentu yang dapat diturunkan melalui angka.
Setiap disiplin ilmu memiliki simbol-simbol teknis sendiri, dengan demikian akan berbeda simbol yan berlaku di ilmu ekonomi, sosial, filsafat, kimia, biologi dan lain-lain. Dalam masing-masing komunitas keilmuan simbol yang akan digunakan harus dinyatakan melalui definisi (takrif) atau batasan. Hal ini bertujuan untuk:
a)      Menghilangkan kerancuan berpikir yang disebabkan pertentangan verbal dan mungkin juga karena perbedaan yang hakiki (substansial).
b)      Mengurangi kekaburan, sehingga memudahkan orang menguasai petunjuk pelaksanaan. Kalau satu konsep dapat diartikan lebih dari satu ngertian maka konsep tersebut redanden, dan mungkin juga satu konsep tak jelas tapal batasanya.
c)      Konsep dapat mejelaskan karakteristik suatu teori tertentu yang penad dengan masalah peneitian.
d)     Untuk menarik minat orang lain karena dengan mentakrif konsep dapat mengajak orang memahami konsep secara mendalam.

3.    Macam Konsep dan Pengukurannya
Konsep dibedakan dalam dua jenis yang memiliki konsekuensi informasi yang dikandungnya.
a)      Atribut (attribute), yaitu konep yang memiliki ciri khas (property) yang dikandungnya sehingga dapat dibedakan. Konsep semacam ini juga mengandung informasi yang bersifat kategorikal, yaitu susunan pengertian atau dalam bentuk pernyataan yang telah dibentuk oleh akal manusia (diberi makna). Konsep atribut sering diungkap dalam penelitian kualitatif yang bertujuan untuk membangun pemahaman baru atas realistik sosial.
b)      Peubah (variabel) yaitu konsep yang mengandung ciri khas (properti) yang dapat diukur (menunjukan suatu derajat). Konsep peubah ini memiliki empat aras pengukuran, yaitu aras pengukuran nominal, ordinal, interval, dan rasional (NOIR)
Aras pengukuran interval dan rasional sering disebut aras pengukuran kardinal dan sering kali pembedaan kedua aras pengukuran itu bersifat akademis. Pemahaman tentang pertautan antara macam konsep (atribut dan peubah) dan aras pengukuran konsep (NOIR) mutlak penting karena memiliki implikasi terhap instrumen yang digunakan untuk mengukur konsep itu. Analisis statistik menjadi tulang punggung dalam pengukuran konsep yang brupa peubah.
Konsep atribut memiliki aras pengukuran nominal yang secara empiris hanya dapat diidentifikasi untuk dipahami. Dalam kegiatan analisis statistik, arus pengukuran nominal dan sebagian ordinal dapat dikaji dengan jenis statistik non-parametrik. Analisis non-parametrik memiliki keunggulan yaitu tidak melibatkan parameter populasi, dapat membaca data yang berasal dari skala lemah, dapat dipaka meskipun konsepnya lemah dan cepat dikerjakan meskipun secara manual (Daniel, 1989: 22-23)
Konsep peubah (variabel) memiliki aras pengukuran ordinal, interval dan rasional. Secara empiris dapat dilakukan penskalaan, yang kemudian dapat dikaji dengan jenis statistik prametrik. Data jenis kardinal memiliki keistimewaan, karena pensekalaan yang halus maka tingkat kejelasannya lebih baik. Oleh karena itu data kardinal dapat langsung menggunakan uji statistik parametrik dalam kegiatan analisis. Dari uraian tersebut, beberapa hal perlu diperhatikan untuk penggunaan kajian statistik:
a)      Bila semua konsep dalam model diukur pada aras normal maka secara langsung dapat digunakan teknik non-parametrik statistik.
b)      Apabila semua konsep dapat diukur di aras ordinal, maka dapat langsung digunakan teknik analisis non-parametrik yang digunakan.
c)      Apabila semua konsep dalam model itu diukur pada aras kardinal maka teknik statistik parametrik cocok digunakan.
d)     Apabila dalam model terdapat konsep-konsep yang diukur pada aras yang berbeda maka tersedia berbagai teknik tatistik.
e)      Mengubah aras pengukuran konsep hanya dapat dilakukan dari yang pada dasarnya kuantitatif ke yang kualitatif.

4.      Ketepatan dalam Pengukuran Konsep
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengkuran konsep penelitian. Dalam hal ini perlu disadari bahwa mengukur konsep adalah suatu peristiwa di luar bangunan teori, tetapi cukup menentukan apakah suatu konsep tersebut dapat diukur atau dibuktikan di aras empirik.
Konsep tengahan yang berasal dari penjabaran teori besar masih perlu dijabarkan dalam konsep rendahan (teori rendahan) yang mengandung matra tunggal sehigga dapat langsung dicarikan indikator empiris di aras empiris. Indikator empiris juga disebut ‘auxiliary theory’ yang membuka peluang proses terjemahan konsepsi abstrak pada aras empiris. Dalam keadaan tertentu dapat terjadi penggunaan indikator empiris yang dapat menimbulkan nisbah semu antar indikator empiris atau indikator empiris dengan konsep abstrak.
Apakah memang indkator empiris yang dipilih itu senyatanya mampu mengukur secara tepat konsep terentu, masih harus dibuktikan. Pembuktian ini kemudian dikenal sebagai kesahihan (validity) dan keterandalan (reability) dari suatu indikator empiris. Jenis kesahihan dan keterandalan suatu indkator empiris dapat diuji dengan teknik statistik dan non-statistik, tergantung pada jenis konsep yang ada (atribut dan peubah).
Jumlah indikator empiris untuk mengukur sebuah konsep bersifat relatif; dapat digunakan indikator tunggal, jamak dan indeks. Digunakan indikator tunggal, apabila hanya dengan satu indikator empiris tersebut dapat diukur konsep yang ada di aras abstrak. Dalam hal ini hasilnya dapat merefleksikan secara tepat realitas dari fenomena yang hendak diukur.
Digunakan indikator jamak, apabila untuk mengukur konsep dilakukan dengan lebih dari satu indikator empiris. Masing-masing indikator empiris tetap dipertahankan identitasnya, dalam hal ini tidak dilakukan penggabungan dalam suatu ringkasan skor. Penggunaan indikator jamak merupakan pilihan yang tepat untuk mengukur konsep-konsep sosial.
Digunakan indeks, apabila ada upaya untuk menggabungkan berbagai indikator jamak dalam suatu ringkasan skor. Dalam hal ini perlu dcari jalan keluar mengenai jumlah indikator empiris, bobot penilaian dalam penskalaan dan cara menggabungkan. Indikator empiris bentuk indeks sangat dibutuhkan dalam kegiatan analisis statistik terutama untuk menguji data kardinal.

B.     DALIL
1.    Pengertian
Secara tegas hubungan dua konsep atau lebih yang menjadi unsur pokok bangunan teori disebut dalil (Ihalauw, 1985: 57). Selanjutnya keberadaan dalil ditunjukan dengan adanya nisbah (garis yang menghubungkan) antara suatu konsep dengan konsep yang lain. Tampaknya istilah dalil lebuh jelas menunjukan adanya hubungan yang saling bertautan sedangkan proporsi mengacu pada arti pengembangan suatu konsep yang empiris (Taylor & Bogdan, 1984: 126-130). Dengan demikian dalil adalah pernyataan nisbah antar konsep dalam bentuk yang rasional selebihnya itu pengembangan hubungan antar konsep menjadi tanggungan proporsi yang mengaturnya.
Dalil berperan memberi tujuan yang tegas, dan membantu arah yang harus ditempuh dalam pembatasan lingkup penelitian dengan data-data empiris yang menjadi perhatian. Dalil memberikan acuan kepada peneliti supaya terhindarkan dari penelitian yang tak terarah dan tidak bertujuan, dimana dikumpulkan data atau informasi yang mungkin ternyata tidak ada hubungannya dengan masalah yang diteliti.

2.    Struktur Dalil
Membicarakan stuktur dalil, beberapa indikator akan muncul sebagai titik minat kajian.
a)    Konsep dalil ditunjukan manakala terjadi hubungan antara peubah bebas dan peubah gayut.
b)   Konsep dalil yang ditandai dengan nisbah memiliki arti atau penduga tertentu dalam dalil yang bersangkutan.
c)    Konsep dalil memiliki nilai informasi tertentu yang mengandung kadar kepentingan yang berlainan.
Struktur dalil dapat dilihat sederhana dan dapat dilihat secara kompleks. Dalil sederhana mengandung dua peubah yaitu peubah bebas dan peubah gayut tetapi dapat pula dijumpai peubah antara yang terletak di tengah dua peubah terdaulu. Tampaknya struktur dalil tidak selalu sederhana, dalam penelitian struktur dalil sering kelihatan kompleks karena memuat banyak peubah secara sistematik. Pengkajian terhadap struktur dalil yang komplek ini dilakukan dengan bertahap sehingga seluruh struktur dapat dilihat secara utuh.

3.    Hubungan yang Dikandung Suatu Dalil
Ada tiga kemungkinan pertautan yang diakndung suatu dalil, yaitu:
a)    Hubungan simetri, ini terjadi karena kedua peubah berdasar dari konsep yang sama dan kebetulan terjadi sehingga pertautan dengan nisbah nol.
K1 ...........K2
b)   Hubngan timbal balik, yaitu suatu dalil yang pertautan hubungannya berubah bersama-sama, atau peubah dalam dalil itu terjadi atau berada bersama. Tidak diketahui kandungan informasi peubah apa menyebabkan apa, dengan demikian tidak diketahui mana peubah bebas dan mana peubah gayut.
K1                     K2
c)    Hubungan a-simetri, yaitu suatu dalil yang memiliki konsep hubungan sebab dan akibat sehingga memiliki jenis peubah bebas dan gayut.
K1                     K2
Kusus untuk hubungan a-simetri memiliki tiga ragam bentuk dasar yang masih dikembangkan lagi, tiga bentuk tersebut yaitu:












 




4.    Arah yang Dikandung Suatu Dalil
Arah yang dikandung tautan yang dikandun oleh struktur dalil dibedakan menjadi tiga yaitu:
a)    Arah positif; terjadi jika perubahan pada suatu peubah (K1) dalam suatu struktur dalam diikuti oleh peubah yang lain (K2).
Oval: K2Oval: K1                                           












 
b)   Arah negatif; terjadi jika perubahan pada suatu peubah (K1) dalam suatu struktur dalil diikuti perubahan tidak searah oleh peubah yang lain (K2)


 
                                                           
c)    Oval: K1Tidak diketahui arahnya; terjadi jika perubahan pada suatu peubah berhubungan dengan peubah yang lain







Oval: K4

 




5.    Langkah-Langkah Perumusan Dalil
Merumuskan dalil berarti mengadakan pengujian empiris nisbah di antara dua konsep yang ada. pengujian itu menjadi tugas peneliti yaitu membuktikan nisbah di aras empiris. Dalam hal ini mencakup berbagai hipotesis statistik yang muncul dari berbagai hubungan antar konsep atau peubah. Sebuah hipotesis dengan demikian tampil sebagai pemaknaan nisbah diantara dua konsep atau pemaknaan sebuah dalil.
5.1.  Kekuatan pertautan dalil
Kekuatan nisbah antar konsep dilakukan dengan koefesien korelasi. Hasil perhitungan akan berkisar antar -1 sampai +1 dengan langkah ini dapat diketahui kesimpulan kekuatan nisbah pertautan dalil.
5.2.  Sifat tautan a-simetri  
Sifat tautan a-simetri (sebab-akibat) antar konsep dalm struktur dalil dapat diilih menjadi 5 pasang ragam tautan sebab-akibat;
5.2.1.      Reversible dan Ireversible
Reversible, bila X, maka Y; dan bila Y, maka X ada tenggang waktu antara X → Y untuk bebalik Y → X
X→Y; Y→X
Ireversible, bila X maka Y, tetapi bila Y maka tidak ada kesimpulan apapun yang dibuat tentang Y
5.2.2.      Determinastic dan Stockastic
Deterministic, bila X senantiasa Y, kata senantiasa menjadi kesimpulan mutlak X    Y
senantiasa
Stockastic, bila X maka mungkin Y
X    Y
mungkin
5.2.3.      Squential dan Coextensive
Squential, bila X maka kemudian Y. Pergantian atau giliran
X    Y
kemudian
Coextensive, bila X maka jugaY. Menunjukan kesejajaran pada gilirannya.
X    Y
   Juga

5.2.4.      Sufficient dan Contingent
Sufficient, bila X maka Y. tanpa perlu lagi ada yang lain. Kunci hubungan ini adalahmengeliminir konsep lain.
X                   Y
   Tak perlu yang lain
Contingent, bila X maka Y, tetapi hanya jika situasi Z. Dalam hal ini jiak hanya Z yang menjadi kata kunci yang mutlak diperhatikan
X      Y
   Bila Z
5.2.5.      Necessary dan Substitutable
Necessary, bila X dan hanya bila X maka Y. Maka X menjadi konsep yang mutlak menimbulakan nisbah dengan konsep Y
X             Y
    Hanya bila X
Substitutable, bila X maka Y. tetapi bila Z maka Y juga. Jadi dalam hal ini Z dapat menggantikan X dalam meramalkan Z


 




5.3.  Beda Dalil dan Hipotesis
Konsep dalil tidak banyak diketahui oleh peneliti. Tetapi hipotesis berkesan lebi bernilai informatif. Dalil memang memiliki kesamaan dengan hipotesis, hanya dalil berada di aras abstrak rendah sedangkan hipotesis berada di garis batas antara aras abstrak dan aras empiris, dengan demikian hipotesis memuat pernyataan yang jelas yang langsung dapat diuji kebenarannya.


Daftar Pustaka

Prihantana, Made Agus Suryadarma. 2012. Deskripsi Paradigma, Konsep, Dalil, Teori.(online) http:// Deskripsi (1) paradigma, (2) konsep, (3) dalil, dan (4) teori. _ Suryadarma Site.com. diakses hari senin tanggal 01 desember 2014 pukul 10.00 wib.
Salim, Agus M.S. 2006. Bangunan Teori: Metode Penelitian Untuk Bidang Sosial, Psikologi dan Pendidikan Edisi Kedua. Yogyakarta: Tiara Wacana.