BAB I
PENDAHULUAN
Kromosom adalah suatu struktur makromolekul yang
berisi DNA di mana informasi genetik dalam sel disimpan. Kata kromosom berasal
dari kata khroma yang berarti warna dan soma yang berarti badan Kromosom
terdiri atas dua bagian, yaitu sentromer / kinekthor yang merupakan pusat
kromosom berbentuk bulat dan lengan kromosom yang mengandung kromonema &
gen berjumlah dua buah (sepasang).
Pewarisan
Rangkai X Percobaan yang pertama kali
mengungkapkan adanya peristiwa rangkai kelamin dilakukan oleh T.H Morgan pada
tahun 1910. Dia menyilangkan lalat D. melanogaster jantan bermata
putih dengan betina bermata merah. Lalat bermata merah lazim dianggap sebagai
lalat normal atau tipe alami (wild type), sedang gen pengatur tipe
alami, misalnya pengatur warna mata merah ini, dapat dilambangkan dengan tanda
+. Biasanya, meskipun tidak selalu, gen tipe alami bersifat dominan
terhadap alel mutannya. Hasil persilangan Morgan tersebut, khususnya pada
generasi F1, ternyata berbeda jika tetua jantan yang digunakan
adalah tipe alami (bermata merah) dan tetua betinanya bermata putih. Dengan
perkataan lain, perkawinan resiprok menghasilkan keturunan yang berbeda.
Persilangan resiprok dengan hasil yang berbeda ini memberikan petunjuk bahwa
pewarisan warna mata pada Drosophila ada hubungannya dengan jenis
kelamin, dan ternyata kemudian memang diketahui bahwa gen yang mengatur warna
mata pada Drosophila terletak pada kromosom kelamin, dalam hal ini
kromosom X. Oleh karena itu, gen pengatur warna mata ini dikatakan sebagai gen
rangkai X.
Sedangakan pada umumnya kromosom Y hanya sedikit sekali mengandung
gen yang aktif. Jumlah yang sangat sedikit ini mungkin disebabkan oleh sulitnya
menemukan alel mutan bagi gen rangkai Y yang dapat menghasilkan fenotipe
abnormal. Biasanya suatu gen/alel dapat dideteksi keberadaannya apabila
fenotipe yang dihasilkannya adalah abnormal. Oleh karena fenotipe abnormal yang
disebabkan oleh gen rangkai Y jumlahnya sangat sedikit, maka gen rangkai Y
diduga merupakan gen yang sangat stabil.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Peranan kromosom X dan Y pada manusia
Seperti halnya dengan lalat drosophila, maka kromosom X pada manusia membawa gen-gen yang
menentukan sifat perempuan. Akan tetapi fungsi kromosom Y pada manusia sangat
berbeda dengan lalat drosophila. Jika
kromosom Y pada drosophila sama
sekali tidak mempengaruhi jenis kelamin lalat, maka pada manusia kromosom Y
merupakan kromosom yang memiliki gen-gen sifat untuk laki-laki. Berapapun
banyaknya kromosom X dimiliki seseorang, asal disamping itu masih mempunyai
kromosom Y sebuah saja, maka orang itu adalah laki-laki. Sedangkan autosom pada
manusia sama sekali tidak berpengaruh pada jenis kelamin. Pada hewan menyusui
Penentuan jenis kelamin pada hewan-hewan ini mengikuti sitem XY, hewan betina
adalah XX dan yang jantan adalah XY.
v
Teori Dapatkan Anak
Laki-laki
Sebuah teori yang sangat popular adalah teori Akihito. Teori yang berasal dari Jepang ini merupakan temuan kaisar Jepang Hirohito yang juga ahli biologi. Teori ini sangat sederhana, dimana untuk pasangan suami isteri yang berkeinginan mendapatkan anak laki-laki sebelum hamil perlu mengatur diet makanan yang dikonsumsi.
Sebuah teori yang sangat popular adalah teori Akihito. Teori yang berasal dari Jepang ini merupakan temuan kaisar Jepang Hirohito yang juga ahli biologi. Teori ini sangat sederhana, dimana untuk pasangan suami isteri yang berkeinginan mendapatkan anak laki-laki sebelum hamil perlu mengatur diet makanan yang dikonsumsi.
B.
KELAINAN PADA KROMOSOM KELAMIN
1.
Sindrom turner
Sindrom Turner atau Ullrich-sindrom
Turner (juga dikenal sebagai "disgenesis gonad") meliputi beberapa
kondisi, yang monosomi X (tidak adanya kromosom seks seluruh) adalah yang
paling umum. Ini adalah kelainan kromosom di mana semua atau bagian dari salah
satu kromosom seks tidak ada (manusia tidak terpengaruh memiliki 46 kromosom,
dimana 2 adalah kromosom seks). Khas perempuan memiliki 2 kromosom X, tapi
dalam sindrom Turner.
Ada kelainan fisik karakteristik, seperti perawakan
pendek, pembengkakan, dada lebar, garis rambut rendah, rendah-set telinga, dan
leher berselaput. Anak perempuan dengan sindrom Turner biasanya mengalami
disfungsi gonad (ovarium tidak bekerja), yang mengakibatkan amenore (tidak
adanya siklus menstruasi) dan kemandulan. Masalah kesehatan Concurrent juga
sering hadir, termasuk penyakit jantung bawaan, hipotiroidisme (sekresi hormon tiroid
berkurang), diabetes, masalah penglihatan, masalah pendengaran, dan banyak
penyakit autoimun lainnya.
2. Sindrom Klinefelter
Sindrom
Klinefelter adalah kelainan yang hanya terjadi pada laki-laki. Laki-laki normal
memiliki kromosom X dan kromosom Y (XY). Tetapi laki-laki yang memiliki sindrom
Klinefelter memiliki kromosom X tambahan sehingga jumlah kromosom seks nya
menjadi XXY, dan formula kromosom mereka menjadi 47,XXY, bukan 46, XY , Orang-orang dengan kelainan ini secara fenotip sebagai laki-laki
dengan karakteristik lebih feminin, hal ini semakin menjadi jelas saat mereka
memasuki fase pubertas. Tinggi badan mereka diatas tinggi rata-rata, tidak
menunjukkan adanya perkembangan kelamin sekunder, seperti tidak tumbuh rambut
pada wajah (kumis, jenggot, dan cambang), tidak tumbuh rambut pada ketiak, dada
dan pubis. Kelebihan kromosom X berdampak langsung pada ketidakmampuan testis
membentuk sperma dan hormon kelamin laki-laki seperti testosteron.
3.
Wanita super
Sindrom Triple-X adalah satu jenis variasi kromosom
disebabkan oleh perwujudan 3 kromosom X (trisomi) dalam gamet. Penderita
mempunyai fenotip perempuan. Sindrom Triple-X terjadi terjadi akibat
abnormalitas pembelahan kromosom menjadi gamet semasa meiosis. Perempuan dengan
keadaan ini (lebih kurang 0.1% populasi perempuan) dan tidak memiliki risiko
terhadap masalah kesehatan lainnya. Kariotip penderita sindrom Triple-X
mempunyai 47 kromosom. Sindroma tripel X ini dalam beberapa hal dapat
dibandingkan dengan lalat Drosophila betina super (XXX). Tetapi pada
Drosophila, lalat demikian itu biasanya sangat abnormal dan steril atau bahkan
letal. Sedangkan orang perempuan XXX kadang-kadang sukar dibedakan dengan orang
perempuan normal, meskipun ada tanda-tanda kelainan seperti mental abnormal,
menstruasi sangat tidak teratur. ciri-ciri umum penderita syndrome triple X
yaitu Fisik Lebih tinggi dari orang normal (kira-kira 172cm), Kepala kecil,
mongolisme,Terdapat lipatan kulit pada epicanthal
4. Pria XYY
Pada sindroma XYY seorang bayi laki-laki terlahir dengan
kelebihan kromosom Y, Pria biasanya hanya memiliki 1 kromosom X dan 1 kromosom
Y.digambarkan sebagai 46,XY pria dengan sindroma XXY memiliki 2 kromosom Y dan
digambarkan sebagai47 XYY. Berikut Contoh
gambar pria dengan kromosom XYY
C.
KELAINAN PADA AUTOSOM
Kelainan autosom dapat terjadi pada priadan wanita,
suatu contoh yang banyak terdapat diindonesia ialah sindrom down. Sifat
penderita sindrom down biasanya tubuhnya kelihatan pendek dan punting, muka
lebih bulat, kelopak mata atas memiliki lipatan epikantus sehingga mirip dengan
orang oriental, iris mata kadang-kadang bintik-bintik disebut “brushfield”,
mulut biasanya selalu terbukadan ujung lidah membesar keluar dari lubang mulut,
hidung lebar dan datar, pada telapak tangan (dari salah satu kedua tangan)
hanya terdapat sebuah garis horizontal, ibu jari kaki kedua jari kaki biasanya
tidak rapat, memiliki kelainan jantung, memiliki IQ yang sangat rendah, selalu
memperlihatkan wajah gembira, dan biasanya kebanyakan penderita sindrom Down merupakan
anak terakhir dari suatu keluarga besar yang usia ibunya pada waktu melahirkan
anak tersebut sudah terlalu tua.
v Pada tumbuhan-tumbuhan berumah dua
Kebanyakan tumbuh-tumbuhan mempunyai benang dengan
benang sari (alat kelamin jantan) dan putik (alat kelamin betina). Bunga
demikian dinamakan bunga demikian disebut bunga Hermafrodit (bunga banci).
Berhubungan dengan itu kebanykan tumbuh-tumbuhan tidak dapat dibedakan jenis
kelaminnya. Tetapi ada tumbuh-tumbuhan yang dapat dibedakan atas tanaman jantan
(bunganya hanya memiliki benang sari saja tanpa putik) dan tanaman betina (bunganya memilikmi putik
saja). Pada tumbuh-tumbuhan demikian ini dapat dibedakan jenius kelamin, yang
mengikuti system XY pula, tanaman betina
adalah XX, sedangkan yang jantan XY. Contohnya pada tanaman salak.
D.
BERBAGAI TIPE PENENTUAN JENIS KELAMIN
a.
Tipe XO
Sistem XO dijumpai pada beberapa jenis serangga, misalnya belalang.
Di dalam sel somatisnya, individu betina memiliki dua buah kromosom X sementara
individu jantan hanya mempunyai sebuah kromosom X. Jadi, hal ini mirip dengan
sistem XY. Bedanya, pada sistem XO individu jantan tidak mempunyai kromosom Y.
Dengan demikian, jumlah kromosom sel somatis individu betina lebih banyak
daripada jumlah pada individu jantan. Sebagai contoh, E.B. Wilson menemukan
bahwa sel somatis serangga Protenor betina mempunyai 14 kromosom, sedang
pada individu jantannya hanya ada 13 kromosom.
b.
Tipe ZW
Pada beberapa
jenis burung, kupu-kupu, ikan, dan reptile, ditemukan bentuk kromosom kelamin
yang berlainan. Pada jantan memiliki sepasang kromosom kelamin yang sama
bentuknya, maka dikatakan bersifat homogametic. Yang betina bersifat
heterogenetic, karena 1 kromosom kelamin berbentuk seperti pada yang jantan,
sedangkan yang satu lagi sangat lain bentuknya. Jadi keadaan ini kebalikan
dengan manusia, sebab pada manusia yang laki-laki adalah heterogametic (XY)
sedangakan yang perempuan homogametic (XX). Untuk menghindari kekeliaruan maka
kromosom kelamin pada hewan-hewan tersebut diatas disebut ZZ dan ZW. hewan
adalah ZZ sedangakn yang betina ZW, jadi semua spermatozoa mengandung kromosom
kelamin Z sedangakan sel telurnya ada
kemungkinan mengandung kromosom kelamin Z da nada kemungkinan mengandung
kromosomj kelamin W.
c.
Tipe ZO
Pada
ungags (ayam, itik, dan sebagainya) susunan kelaminnya berbeda lagi, yang
betina hanya memiliki sebuah kromosom kelamin saja, tetapi bentuknya berbeda
dengan yang dijumpai pada belalang. Karena itu ayam betina zo (heterogametik).
Ayam jantan memiliki sepasang kromosomkelamin yang sma bentuknya maka menjadi
ZZ (homogametic). Jadi spermatozoa ayam hanya satu macam saja, yaitu membawa
kromosom kelamin Z, sedangkan sel telurnya ada dua macam mungkin membawa
kromosom Z dan mungikn juga tidak memiliki kromosom kelamin sama sekali.
d.
Tipe haploid-diploid
Pada serangga yang termasuk ordo hymenoptera seperti
lebah madu, semut, lebah, penentuan
jenis kelaminnya sama sekali tidak ada
hubungannya dengan kromosom kelamin. Lebah madu bjantan misalnya,
terjadi karena perftenogenase, yaitu terbentuknya makhluk dari8 sel telur tanpa
didahului oleh pembuahan. Dengaan demikian maka lebah madu jantan bersifat
haplod, yang memiliki 16 buah kromosom. Sel telur yang dibuahi oleh
spermatozoon akan menghasilkan lebah madu betina yang berupa lebah ratu dan
pekerja, masing-masing bersifat diploid dan memiliki 32 kromosom. Karena
perbedaan tempat dan makanan, kak lebah ratu subur (fertile), sedangkan lebah
pekerja madu mandul (steril). Jadi
jenis kelamin dari serangga-serangga tersebut
tidak ditentukan oleh kromosom kelamin seperti yang lazim berlaku pada
makhluk lainnya, akakn tetapi tergantung dari sifat plodi dari serangga itu.
Jika serangga bitu haploid, ia adalah jantan sedangkan serangga itu diploid ia
adalah betina.
E. GEN TUNGGAL DAN PENENTUAN JENIS
KELAMIN
penentuan jenis kelamin pada beberapa makhluk hidup
dipengaruhi oleh kegiaran yang berlainandari gen-gen tunggal. Tanaman jagung (zea mays) misalnya,
merupakan tanaman berumah satu (bunga jantan dan bunga betina terdapat pada
satu tanaman). Jika gen (ba) homozigotik, maka tongkol yang biasanya merupakan
bunga betina akan berubah membentuk struktur benang sari. Sebaliknya bila gen
(ts) homozigotik maka malai yang biasanya merupakan bunga jantan berubah
membentuk struktur seperti putik dan
tidak menghasilkan serbuk sari. Tanaman dengan genotip babatsts adalah jantan. Peristiwa ini menunjukkan tanaman berumah
satu dapat berubah menjadi tanaman berumah dua atau kebalikannya, sebagai
aakibat adanya mutasi dari dua buah gen dalam hal ini Bb menjadi bb dan Ts
menjadi ts.
F. PENENTUAN JENIS KELAMIN
DAN LINGKUNGAN LUAR
Pada beberapa hewan tingkat rendah, penentuan jenis
kelamin tidak genetic melainkan tergantung dari lingkungan luar. Individu
jantan dan betina mempunyai genotif yang sama, tetapi suatu rangsang dari
sumber lingkungan menentukan pertumbuhan kelamin jantan atau betina. Contohnya
cacing laut Bonnelia yang jantan kecil, mengalami degenerasi dan hidup
didalam rahim cacing betina yang besar. Semua alat dari cacing jantan mengalami
degenerasi kecuali alat reproduksi, sehingga dapat membuahi sel telur dari cacing betina.
G. SEKS MEMBALIK SEBAGIAN
Crew (1923) menemukan bahwa jenis kelamin ayam betina
yang dewasa dapat berubah menjadi jantan . ayam betina yang membalik jenis
kelaminnya itu memliki bulu ekor seperti ayam jantan, dapat berkokok dan
berlaku sebagai induk jantan terhadap anak-anaknya. Ayam betina yang membalik
jenis kelainnya itu disebabkan karena rusaknya ovarium atau karena ovarium
diserang suatu pnyakit, walaupun ayam betina itu membalik jenis kelaminnya
tetapi susunan kromosomnya tetap sama, yaitu ZO. Ayam memilikidua gonada,
tetapi pada ayam betina gonada yang sebelah kiri berkembang menjadi ovarium,
sedangkan yang kanan mengalami degenerasi. Penyelidikankan oleh crew ini
membuktikan bahwa ovarium pada ayam betina yang membalik jenis kelaminnya telah
rusak karena tuberkulose, sehingga gonad
sebelah kanan berkembang menjadi testis.
BAB III
KESIMPULAN
Peranan kromosom X dan Y pada manusia adalah pada
kromosom X membawa gen-gen yang menentukan sifat perempuan sedangakankromosom Y
merupakan kromosom yang memiliki gen-gen untuk sifat laki-laki. Kelainan
kromosom pada manusia dapat dibedakan menjadi 4 yaitu kelaininan pada kromosom
kelamin, sindrom klinefelter, wanita super dan pria XYY. Kelainan autosom dapat
terjadi pada laki-laki dan perempuan contoh yang banyak terjadi di Indonesia
yaitu Sindrom Down.
Berbagai tipe penentuan jenis kelamin yaitu tipe XO, ZW,
ZO, dan tipe haploid diploid. Penentuan
jenis kelamin pada beberapa makhluk hidup dipengaruhi oleh kegiatan yang
berlainan dari gen-gen tunggal selain itu penentuan jenis kelain juga ada yang
dipengaruhi oleh lingkungan luar. Dan pada seks membalik sebagian kelamin
betina dapat berubah menjadi kelamin jantan karena rusaknya ovarium.
DAFTAR
PUSTAKA
Suryo. 2008.Genetika Strata 1. Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press
Bidanshop.2009.Memilih Jenis Kelamin Bayi. Online
(diakses
pada hari Kamis, 31 Mei 2012)
No comments:
Post a Comment